Skip to toolbar

Kolom Eko Kuntadhi: MEMPERINGATI LAUTAN CINTA

0 0
Read Time:2 Minute, 38 Second

Hari ini tanggal 10 Muharam (asyura), menurut perhitungan kalendar hijriyah. Dalam sejarah Islam, ada satu kejadian kelam menimpa keluarga kanjeng Nabi di tanggal itu. Terjadi di Karbala, di Irak. Saat itu terjadi pembantaian yang menyedihkan. Hampir semua cucu keturunan Rasul dibunuh secara keji.

Pembunuhnya adalah serombongan pasukan yang juga mengaku muslim.

Husein, cucu baginda Rasul, bahkan dibunuh dengan bengis. Kepalanya dipenggal. Diinjak-injak kaki kuda. Keluarga dan pengikut setianya juga mengalami hal yang sama. Dibunuh secara keji. Padahal, Rasulullah baru saja wafat 50 tahun sebelumnya.

Setiap 10 Muharam, umat Islam mengenangnya sebagai hari duka cita. Di Jawa, bahkan, kita tidak boleh merayakan pernihakan atau pesta saat bulan Muharam. Ini karena adab. Mana mungkin umat Islam merayakan kegembiraan. Padahal di waktu yang sama ribuan tahun lalu, keluarga Nabi sedang mengalami penderitaan.

Sebab memang agama bersendikan adab. Menghindari pesta dan keriaan pada Muharam merupakan adab untuk sekadar merasakan kepedihan. Kepedihan yang amat sangat yang dialami keluarga Nabi.

Tapi sepetti biasanya menjelang asyura ini, ada orang yang terusik. Kelompok ini tidak mau ada umat Islam sekadar bersedih atas wafatnya cucu Nabi. Mereka akan menuding orang yang merayakan kesedihan itu sebagai sesat atau kafir. Seperti mereka menikamkan tuduhan kotor kepada pengikut Syiah.

Apakah mereka tidak belajar adab dari pendahulunya? Bahkan merayakan pernikahan dan pesta saja dihindari. Sebab bulan ini adalah bulan duka cita. Bulan yang penuh air mata untuk pecinta keluarga Nabi.

Jika menyatakan kesedihan karena cucu dekat Nabi yang teraniaya dianggap sesat. Bagaimana mungkin kita masih enteng mengaku pengikut Rasulullah?

Jika sedikit empati saja tidak mau kita berikan. Bagaimana mungkin kita mengaku mencintainya?

Tapi sudahlah. Sudah sangat lama, ada gerombolan yang mau menjauhkan agama ini dari adabnya. Mereka menuding siapa saja yang mencintai keluarga Nabi sebagai Syiah. Meskipun, kata Imam Syafei, jika mencintai keluarga Nabi dianggap Syiah. Saksikanlah, aku adalah Syiah.

Tapi bukan soal syiah atau suni yang penting. Terserah mau dicap dengan stempel apapun. Bahwa mencintai Nabi adalah kewajiban umat Islam. Apapun mazhabnya. Apapun alirannya.

Sebab mencintai Nabi dan keluarganya adalah perintah Alquran. Mau Syiah atau Sunni, pasti percaya pada isi Alquran. Allah memerintahkan umat Islam, untuk membalas perjuangan dakwah Rasul dengan mencintai keluarga. “Aku tidak meminta balas apapun atas dakwahku. Kecuali kecintaanmu pada keluargaku.”

Jika menjelang asyura isu Syiah dan Sunni dibesar-besarkan, itu karena ada orang yang tidak mau agama ini diisi dengan cinta. Tidak mau agama mulia ini diisi dengan menghormati Nabi dan keluarganya. Mereka hanya mau mengalihkan Islam dari agama cinta menjadi agama penuh kebencian dan amarah.

Makanya mereka akan melaknat siapa saja yang ingin mengekspresikan cintanya pada keluarga Nabi. Mereka akan mengkafirkan siapa saja yang menghayati asyura.

Sebab hanya dengan cara itu mereka bisa merampas inti dari agama Islam: Cinta!

Mereka lebih suka agama ini hadir dengan wajah yang gahar. Wajah yang intoleran. Wajah penuh kemarahan dan kebencian pada yang berbeda. Mereka lebih suka orang takut pada Islam ketimbang jatuh cinta kepadanya.

Tapi, sehebat-hebatnya mereka memberangus rasa cinta. Mereka gak akan sanggup menghabisinya. Sebab setiap tetes air mata yang kekuar karena menangisi penderitaan keluarga Nabi. Akan menjadi lautan cinta. Gelombangnya sanggup menenggelamkan setiap kemarahan.

Labaika ya, Husein…

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: