Skip to toolbar

Kolom Eko Kuntadhi: MENIKMATI BERKAH PENGETAHUAN

0 0
Read Time:2 Minute, 57 Second

Seorang kawan lama, Bang Husein Herianto, doktor filsafat yang sangat spiritual mengirimkan sebuah tulisannya via WA. Judulnya ‘Nalar Realisme Memahami Sains’. Tulisan itu rupanya respon atas perdebatan yang seru dari tokoh-tokoh pemikir. Sambil setengah berkerut membaca tulisannya, juga membaca nama-nama besar yang dikutibnya ….

Saya berfikir, waduh, kok sedikit banget pengetahuanku?

Bang Husein sejak dulu memang rekan diskusi yang asyik. Pikiran dan referensinya luas. Dan saya selalu merasa beruntung bisa menimba pengetahuan setiap kali ngobrol dengannya.

Karena tulisan itu juga saya menelusuri perdebatan yang jadi latar belakangnya.

Perdebatan tersebut diawali dari sebuah Webinar yang menghadirkan Goenawan Mohammad membicarakan soal Sains. Tentu saja konteksnya merespon fenomena virus yang saat ini menerkam dunia. Sains menjadi garda terdepan untuk menjawab masalah kehidupan.

Seorang penanggap, penulis yang tulisannya selalu menggelitik, AS Laksana (Mas Sulaks), akhirnya menulis di laman FB mengkritisi komentar GM dalam webinar tersebut.

Lalu tulisan Mas Sulaks dibalas lagi oleh GM. Bukan hanya mereka berdua yang terlibat perdebatan bergizi itu. Di Kompas kemarin, saya juga membaca artikel teman lain, Nirwan Ahmad Arsuka membahas persoalan yang sama. Saya yakin tulisan Nirwan juga dipicu dari perdebatan seru tersebut.

Karena hampir dua minggu kemarin FB saya bermasalah, saya sebel juga ketinggalan informasinya. Lalu ketika sudah berhasil membuat akun baru (dengan nomor telepon baru), saya menelusuri satu-satu tulisan-tulisan asyik tersebut.

Saya berjumpa dengan Budi Munawar Rachman yang mengulas soal sains dan kesombongan saintisme. Saya juga berjumpa dengan tulisan bergizi MAs Ulil Abshar Abdalla yang membahas soal Quthbiisme. Istilah ini diambil dari nama Syaid Quthb, seorang ideolog Ikhwanul Muslimin yang mendorong orang bersikap merasa paling benar dalam penghayatan agama.

Mengikuti keseruan anjang sana pikiran seperti itu, saya bersyukur media sosial seperti Facebook bukan hanya berisi sampah hoax, foto makanan dan aktifitas elementer. Tetapi juga menyajikan ‘kuliah’ mendalam dari orang-orang yang memang pikirannya layak dikonsumsi.

Saya membayangkan jika sejak dulu media sosial sudah ada dan semua pemikir raksasa bangsa ini menggunakannya dengan aktif. Kita akan bisa langsung bertemu Cak Nur atau Gus Dur. Berjumpa Romo Mangun yang asyik itu. Atau bahkan menyelami pemikiran ekonomi Hatta, menyelami pergumulan ideologi Tan Malaka. Serta dibakar oleh status-status nasionalisme Soekarno.

Saya sendiri mencoba memanfaatkan hampir semua media sosial. Twitter dengan segala keterbatasannya, bisa dimanfaatkan untuk mencari kecepatan informasi. Juga untuk menyampaikan cetusan-cetusan pendek.

Sementara IG lebih banyak unsur happy-nya. Berguna untuk melihat dunia ini ternyata begitu indah.

Sementara karena FB menyediakan ruang yang lebih longgar, bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan teks yang lebih utuh, meski tetap saja terbatas. Juga bisa menyampaikan pikiran kita.

Ruang diskusi yang bebas ini menjadi semacam latihan kita untuk semakin menyemarakkan berkah demokrasi. Kita bisa selalu update informasi, melaga pikiran, sambil terus menerus belajar dari banyak orang-orang besar secara langsung. Iya, secara langsung dan gratis. Asyik juga kan?

Meskipun saking bebasnya ruang media sosial bisa juga digunakan untuk menyebarkan idiologi yang justru tujuannya untuk membunuh kebebasan itu. ISIS misalnya, dalam sehari memproduksi 240 ribu konten. Menyebarkannya secara masif untuk menggaet orang-orang yang picik.

Demikian juga dengan Hizbut Tahrir yang mempropagandakan khilafah untuk membasmi keberagaman. Mereka aktif menggunakan media sosial sebagai medium sebaran ajarannya.

Watch this video on YouTube.

Maka, meski akun saya bolak-balik kena strap Mark Zukenberg, saya tetap menaruh hormat pada Mark. Dari dialah kita bisa mendapatkan keberkahan informasi. Meski kadang kita juga harus berhadapan dengan informasi palsu.

“Dan satu lagi, mas. Tanpa Facebook, saya gak mungkin ada,” ujar Abu Kumkum.

Betoooollll

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: