Skip to toolbar

Kolom Eko Kuntadhi: PERANG PENGGEDE DI TANGSEL

0 0
Read Time:2 Minute, 51 Second

Pilkada paling ramai 2020 ini terjadi di Tanggerang Selatan. Bukan apa-apa. Di sana bertarung banyak keturunan tokoh nasional. Ada Saraswati, anak Hasyim Djojohadikusumo, yang juga kemenakan Menhan Prabowo Subianto. Saras menjadi Cawawalkot mendampingi Muhamad, sebagai Cawalkot. Muhamad sendiri adalah mantan Sekda Tangsel jaman Airin.

Pasangan ini didukung PDIP dan Gerindra.

Ada juga Siti Nur Azizah, putri Wapres Makruf Amin. Azizah didampingi Ruhamaben, didukung Demokrat, PKA dan PKB.

Satu lagi adalah titisan H. Kasan yang juga kemenakan Ratu Atut, mantan Gubernur Banten yang terperosok kasus korupsi. Keluarga H. Kasan memamg dikenal penguasa Banten sejak lama. Kali ini yang maju Pilkada adalah Benyamin Devnie, didampingi Pilar Saga. Mereka didukung partai Golkar.

Karena yang maju adalah anak-anak para penggede, diperkirakan pertarungan bakal seru. Makanya sejak subuh isunya sudah ramai banget.

Gue sih, gak punya kepentingan dengan Pilkada Banten. Tapi karena ini semacam proxy dari tokoh-tokoh besar, jadinya memang seru untuk diamati.

Kalau mau jujur, Banten memang sudah lama dikuasai keluarga H. Kasan, yang masuk ke berbagai jaringan pemerintahan dan legislatif. Biasanya mereka berada di payung Golkar. Meskipun belakangan beberapa anggota keluarga mulai menyebar ke partai-partai lainnya.

Perlu diingat, Ratu Atut sebagai simbol keluarga kini masuk penjara karena korupsi. Juga Wawan, suami Airin, Walkot Tangsel sekarang, yang terseret kasus korupsi. Tapi, apakah isu korupsi ini bisa meruntuhkan kejayaan keluarga H. Kasan di Banten? Rasanya gak semudah itu.

PKS sudah beberapa kali mencoba melawan kekuatan keluarga H. Kasan. Tapi gak pernah menang. Zulkieflimansyah, yang kini Gubernur NTB, pernah keok di tangan Ratu Atut. Demikian juga PDIP yang pernah menurunkan Rano Karno untuk bersaing. Keok juga sama Ratu Atut.

Artinya, gak mudah mengalahkan raja-raja kecil di daerah.

Tapi, kali ini lawannya adalah anak Wapres dan kemenakan Ketum Gerindra. Inilah serunya. PDIP dan Gerindra sendiri terlihat sering bergandengan tangan di berbagai Pilkada 2020. Persaingan 2014 dan 2019 lalu sudah meluntur.

Sementara Demokrat makin terlihat kekadrun-kadrunan, karena kerap bergandengan dengan PKS. Di level nasional, Demokrat dan PKS juga ambil posisi sebagai oposisi.

Jangan heran jika pola pertarungannya bakal seru. PKS yang jago main isu SARA, Gerindra yang memang sedang mesra dengan PDIP. Dan Golkar dengan pondasi keluarga H. Kasan yang sejak lama menguasai Banten.

Karena Pilkada kali ini berjalan di saat pandemi, keriuhan politik banyak beralih ke media sosial. Berbagai isu akan saling tindih. Fibrasinya akan terasa juga ke skala nasional. Sebab yang namanya media sosial kan gak sebatas Tangsel saja. Sebarannya meluas. Akibatnya kita yang gak ada hubungannya sama Tangsel pasa akhirnya akan terpapar isunya.

Gue sendiri warga Depok. Tapi pertarungan di Depok rasanya anyep. Meskipun, kekuasaan PKS yang sudah 15 tahun di Depok telah memelintir kota ini jadi ribet dengan Perda Syariah. Depok mau dijadikan kota hanya berbasiskan satu agama saja.

Idris, Walkot lama kader PKS, kini berhadapan dengan Pradi, yang dulu duduk sebagai Wakil Walikotanya. Gue gedeg juga. Justru Perda Syariah yang diskriminatif itu lahir di saat Idris dan Pradi menjabat sebagai Walikota dan Wakilnya. Lha, terus apa menariknya Pilkada Depok sekarang?

Kayaknya Depok memang salah satu kota yang kena tenung. Yang diributin soal syariah melulu. Sementara soal jalan yang hancur, kesejahteraan yang melorot, tingkat Pungli yang tinggi. Gak menjadi masalah.

Miskin gak masalah. Korupsi gak masalah. Amanah nomor dua. Yang penting syariah.

“Mas, nasibmu sial banget, ya. Walkot Depok dari PKS. Kerja di Jakarta. Eh, Gubernurnya Anies…”

Apeesss…

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

One thought on “Kolom Eko Kuntadhi: PERANG PENGGEDE DI TANGSEL

  1. Pemilihan Daerah, Nasional dan Internasional.

    Menarik memang baca-baca soal pemilihan sekarang ini, apalagi kalau sedikit dikait-kaitkan dengan situasi internasional, bagaimana perkembangan terakhir soal demokrasi dan pemilihan. Paling menarik tentu kalau dikaitkan dengan pilpres AS sekarang ini, antara perwakilan nasionalis Trump kontra boneka deep state Biden.

    “82 persen calon kepala daerah yang ikut pilkada dibiayai oleh cukong” dikatakan oleh menkopolhukam Mahfud MD di Padang, Sumbar, Kamis (17/9).

    Apakah pilkada di Tangsel juga ‘dibiayai oleh cukong’ susahlah untuk menilainya, karena disini adalah ‘perang penggede’, bisa diartikan kira-kira lebih gede dari cukong, atau kemungkinan ‘tidak dibiayai oleh cukong’, walaupun cukong pasti ada dimana-mana. Cukong dan para koruptor nasional bisa dikatakan adalah perwakilan utama dari ‘the ruler’ NWO ‘deep state’ atau ‘rezim global’ di tiap negara nasional dunia.

    Akan tetapi nasib ‘the ruler’ ini sekarang sudah seperti telur diujung tanduk, berkat hampir 4 tahun kekuasaan Trump di AS. Dengan segala jalan Trump akan dikalahkan pada pilpres November ini. Hidup mati ‘the ruler’ ini tergantung disitu. Nasib para koruptor dan cukong diseluruh dunia juga tergantung dari menang kalahnya Trump. Atau tepatnya berhasil tidaknya presiden Trump disingkirkan dari Gedung Putih dengan cara mencurangi pilpres.

    “We’re saving the world from a radical left philosophy that will destroy this country and, when this country is gone, the rest of the world will follow.” Ini dikatakan oleh Trump, ketika ada White House press briefing, on 19 August 2020.

    Ditinjau dari KONTRADIKSI UTAMA DUNIA itu, memang pastilah akan memperpanjang perjuangan nasional dunia itu, kalau Trump terusir dari Gedung Putih dan kekuasaan kembali ketangan NWO dan boneka-bonekanya seperti Biden.

    Bisa dirasakan kebenaran kata-kata Trump itu. Terutama terlihat dari pengaruh kekuasaannya di AS selama hampir 4 tahun ini, memang terlihat jelas pengaruhnya keseluruh dunia. Terorisme islam lenyap, karena ‘terrorism made in USA dan the war on terrorism is a fabrication, a big lie’ (prof Chossudovsky). Pusat terorism islam yang ‘made in USA’ itu sudah hizrah dari USA, tidak tahu entah kemana. Selama ini The Global Power Structure (Deep State) ini pakai negara adidaya AS untuk melaksanakan semua tindakan brutalnya mengacau dan memecah belah negara lain, merampok SDAnya, termasuk jadi fabrik terorisme itu.

    Sekarang fabrik terornya tak bisa lagi jalan, kecuali kalau Trump berhasil disingkirkan November nanti. Karena itu menurut Trump the deep state akan mencurangi pilpres dengan segala jalan, terutama karena bisa memanfaatkan covid-19. Tetapi Trump sudah siap, dan akan bertahan dengan segala jalan, dia tidak akan meninggalkan Gedung Putih dengan sukarela karena hasil pemalsuan pilpres. Trump akan bertahan termasuk dengan kekuatan militer (perang dan revolusi). ‘The Storm’ (revolusi The QAnon) menuju the ‘day of reckoning’, menangkap dan menghukum semua pelaku kejahatan kemanusiaan di AS dan dunia.

    Juga di Indonesia tentunya (kejahatan 1965) dan koruptor-koruptor era sekarang, elemen peninggalan Orba. Di Indonesia juga harus ada pembersihan atas kekuatan ini yang disebut ‘the ruler’ oleh Dr Paryanto dari Cokroaminoto University Yogyakarta. ‘The ruler’ + sisa orba memimpin semua kejahatan di Indonesia. Terorisme/radikalisme islam, korupsi/cukong, child sex trafficking, narkoba, pedofil net, kawin-mawin homo/lesbi dst.

    Proses pilkada Tangsel dengan semua permainan duit, koruptor, cukong/penggedenya pasti jugalah akan menuju titik terang setelah kekalahan deep state ‘rezim globalis’ dengan berhasilnya Trump dan revolusi QAnon-nya di AS. Biden, Obama, Clinton hanyalah boneka-boneka dari deep state.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: