Kolom Eko Kuntadhi: POLITIK UPIK ABU DAN KUDETA DI DEMOKRAT — Nyanyian Buluh Perindu (Buluh Bilang-bilang)

0 0
Read Time:4 Minute, 44 Second

Dalam dunia politik, Agus Yudhoyono (AHY) itu tergolong masih Balita. Ia memulai debut politiknya pada 2017 ketika maju sebagai Calon Gubernur Jakarta. Saat itu AHY rela mencopot seragam militernya. Pangkat terakhirnya adalah mayor. Mungkin AHY mau cepat naik kelas. Kalau tetap di militer, ia harus menunggu antrian untuk naik pangkat.

Gak bisa ujug-ujug langsung dapat bintang. Apalagi prestasinya biasa-biasa saja.

Tapi mau gimana lagi. AHY memang belum matang. Ia keok di putaran pertama. Mungkin saja pemilih Jakarta belum yakin, orang setingkat mayor bisa memimpin sebuah propinsi.

Iya, juga sih. Jangankan jadi Gubernur. Untuk menjual ayam goreng saja, ia mungkin belum cukup mampu. Minimal seorang kolonel. Kayak, Kolonel Sanders yang terkenal itu. Nasi sudah jadi lontong sayur. Pakai bumbu kacang dan kerupuk.

AHY sudah mengundurkan diri dari karir militernya dan ia gagal jadi Gubernur Jakarta. Tapi, biar bagaimanapun AHY adalah putra SBY. Putra seorang mantan presiden yang juga petinggi Partai Demokrat.

Momen berikutnya adalah Pilpres 2019. Nah, event ini harus dimanfaatkan dengan baik. AHY harus dijajakan lagi. Bahkan sempat ada isu waktu itu AHY mau ditawarkan sebagai Cawapres. Baik kepada Jokowi. Maupun kepada Prabowo.

Tentu saja setiap anak Indonesia boleh menggantungkan cita-citanya setinggi langit. Tapi yang juga penting adalah kualitas personalnya. Jika modal utamanya hanya menggelendot pada kebesaran nama bapaknya, cita-cita itu kedengerannya jadi tinggi, tinggi sekali. Ohh. Ohh.

Gagal memanfaatkan momentum Pilpres 2019. Hanya ada satu kesempatan yang tersisa buat AHY. Kursi Ketua Umum Partai Demokrat. Ini jauh lebih gampang ketimbang merebut kursi Gubernur, Cawapres atau bahkan Menteri.

Pertarungannya mudah. Wong, waktu itu Ketua Partai Demokrat adalah bapaknya. Dan sekjennya adalah Ibas Yudhoyono, adeknya sendiri.Untuk jadi ketua umum, kan bisa disampaikan sambil ngobrol di dapur.

Jadilah AHY Ketua Umum Partai Demokrat. Tapi memimpin sebuah partai, meski partai itu ‘milik’ bapaknya, juga bukan perkara gampang. Wajah AHY yang kinyis-kinyis mengesankan ia terlalu muda. Belum matang. Bahkan di dunia politik, tetap saja AHY dianggap masih bau minyak kayu putih.

Nah, untuk mengubah anggapan belum matang itu, kayaknya AHY mulai mengubah tampilannya. Lantas, jreng! Kini wajahnya mirip iklan obat Jenggot Firdaus.

Pertanyaanya, apakah pemimpin partai cukup dengan bermodal brewok? Iya, sih, Surya Paloh juga sukses menjadikan Partai Nasdem sebesar sekarang. Tapi ingat Surya Paloh itu brewoknya sudah lama. Sementara AHY, tergolong brewok Newbie.

Mungkinkah kader partai demokrat belum yakin, AHY mampu memimpin partai dan meraup simpati rakyat pada Pemilu nanti? Nah, itulah yang menjadi tanda tanya besar.

Kalau diperhatikan dari Pemilu ke Pemilu, Demokrat memang terus melorot suaranya.

Puncaknya pada 2009, saat itu periode ke dua kekuasaan SBY. Demokrat sebagai partai baru berhasil mengumpulkan 20% suara pemilih. Waktu itu bisa disebut masa kejayaan mereka. Lalu, pada Pemilu 2014, suara Demokrat melorot drastis.

Separuh pemilih yang dulu mencoblos Demokrat, kini kabur. Suaranya tinggal 10%. Nah, pada 2019 suara Partai Demokrat melorot lagi. Tinggal 6,81% saja. Kader-kader Demokrat pasti khawatir jika trend penurunan ini terus berlanjut.

Wajar sih, kader-kader partai demokrat ragu dengan kemampuan AHY memimpin partai. Wong bertarung jadi Gubernur Jakarta saja keok di putaran pertama. Lantas, 2019 AHY dijajakan ke mana-mana. Jangankan ada yang beli. Ditawar aja, kayaknya gak.

Lalu, gimana kader-kader partai itu mau percaya orang sekelas AHY bisa meningkatkan citra Partai Demokrat seperti dulu kala?

Nah, suasana psikologis keraguan itu yang juga dirasakan AHY dan lingkarannya. Karena sering diragukan, barangkali ia jadi lebih sensitif dan Baper. Ia jadi insecure dengan posisinya. Ia parno dan jadi gampang curiga.

Sebetulnya rasa curiga itu disebabkan karena rasa gak percaya dirinya sendiri. Makanya saya gak heran ketika AHY kemarin melemparkan isu ada usaha kudeta di dalam partainya. Nama Ketua KSP (Moeldoko) disebut-sebut terlibat.

Bagi saya, isu kudeta itu merupakan gabungan dari keresahan dan ketidakpercayaan kader-kader demokrat terhadap kepemimpinan AHY. Ditambah dengan perasaan insecure dan tidak percaya diri AHY sebagai ketua partai.

Kalau AHY yakin kemimpinannya kuat dan diterima seluruh kader demokrat, ia gak perlu memanjangkan jenggot. Eh, maksudnya gak perlu terlalu khawatir akan dikudeta. Sebab, biar bagaimanapun, proses pengambilan suara partai harus melalui mekanisme AD/ ART partai.

Nah, mengganti seorang ketua umum kan, minimal harus disetujui oleh lebih dari setengah kepengurusan Partai Demokrat daerah yang memiliki suara dalam forum pengambilan keputusan tertinggi.

Pertanyaanya, gimana kalau keresahan kader partai itu ternyata melanda sebagian besar pengurus demokrat di seluruh Indonesia?Apalagi ketika melempar isu kudeta itu, AHY meniru gaya Rocky Gerung. Mengaitkan semuanya dengan Presiden Jokowi.

Ia berkirim surat berisi kegundahannya itu kepada Presiden Jokowi. Terus balasan apa yang kira-kira diharapkan AHY dari Jokowi? Maksudnya, apakah AHY meminta Jokowi menyatakan bahwa selain SBY dan anak keturunannya, dilarang untuk menjadi pemimpin Partai Demokrat?

Atau, apakah AHY ingin agar Presiden Jokowi memecat Moeldoko sebagai Ketua KSP karena dicurigai mau mengkudeta posisinya AHY sebagai ketua Partai?

Begini deh. Partai Demokrat itu adalah partai yang kini sebagai oposisi pemerintah. Biar bagaimanapun Jokowi tetap membutuhkan keberadaan partai oposisi agar jalannya proses demokrasi bisa normal. Pemerintahan di Indonesia tanpa oposisi akan dicurigai menuju otoriterianisme. Tapi dalam manajemen konflik, oposisi diperlukan sepanjang dia lemah.

Nah, partai demokrat di bawah AHY, apa bahayanya buat Jokowi sehingga ia perlu capek-capek merestui orang untuk mengambil alih? Gak usah diambil alih. Didiemin aja juga letoy sendiri. Wong memang dipimpin sama Balita dalam dunia politik.

Jadi, mas AHY, sebaiknya gak usah terlalu sering memainkan mellow drama kayak gitu. Gak usah main politik Upik Abu, untuk menarik simpati orang. Apalagi mengait-ngaitkan presiden dengan isu kudeta segala, biar kesannya dramatis gitu.

Politik playing victim mungkin berhasil di jaman Pak SBY dulu. Sampai dia naik ke kursi Presiden. Tapi masa sih, sampai sekarang caranya itu-itu aja. Gak update banget.

“Mas, saya mau kudeta,” Abu Kumkum nyeletuk.

“Kudeta apaan, Kum”

“Naik kudeta api, tut, tut, tut…” Bajigur…

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: