Kolom Acha Wahyudi: S.O.S PENDIDIKAN

0 0
Read Time:1 Minute, 48 Second

Pagi ini, PJJ pelajaran Agama Islam. Guru Agama memberi tausiah yang intinya: “Allah, tuhan semesta alam lah pencipta semua mahluk hidup dan seluruh alam semesta.” Lanjut mapel Sains Tata Surya terdiri dari Matahari, 8 planet dan satelit-satelitnya. Bla.. bla..bla.. Kalimat penutup, “Allah menciptakan bintang, planet, komet dan seluruh alam semesta, sungguh luar biasa.” Whootttt?

Statement itu ada di buku sains terbitan mana, tahun dan bab berapa?

Terakhir masuk mapel Kepustakaan (Guru kepustakaan merangkap guru agama grade 1-2). “Ibu mau menceritakan dan membahas tentang buku yang menceritakan tentang Alam Ghaib ini ya anak-anak…”

Emak yang mendampingi anak grade 4-nya PJJ, mendadak kehabisan oksigen… mo fengsan! Ini materi pelajaran sekolah yang mengadopsi sistem International Baccalaureate PYP (entah apakah IB ataupun Cambridge akan tetap berkenan brandnya dipakai, saat tahu ada guru yang mengeluarkan statement di atas di kelas sains?).

Hampir tidak dapat aku bayangkan bagaimana kondisi pengajaran sekolah yang hanya mengacu pada sistem Diknas. Tidak ada satu pun negara maju yang mengajarkan agama di sekolah-sekolah negeri mereka, kecuali hanya sekedar menjadi bagian dari mata pelajaran sejarah, sosiologi atau sebagai pilihan penjurusan di tingkat universitas.

Itupun jarang peminat.

Apakah belum cukup banyak ratusan ribu Pesantren, Kolase, institusi pendidikan yang terafiliasi dengan agama tertentu di Indonesia?

Apabila orangtua menginginkan anaknya, atau anak itu sendiri memerlukan pendidikan agama lebih, mereka memiliki amat sangat banyak pilihan. Pelajaran agama sepatutnya dikembalikan ke ranah private. Agar tidak mencemari mata pelajaran lain yang jelas harus mengoptimalkan daya nalar dan logika.

Juga penting untuk mengembangkan gairah berkesenian bangsa. Sementara ada agama tertentu, sedemikian antinya dengan segala sesuatu ber’aroma Seni!

Mas Nadiem Makarim, please help… Kita hampir tidak punya waktu lagi. Selamatkan generasi muda Indonesia! Walau HTI sudah dibubarkan, namun Infiltrasinya sudah mengakar kuat di lembaga-lembaga pendidikan/ universitas pencetak Guru. Dan jalan masuknya melalui mapel Agama dan kegiatan rohis di sekolah!

Ini mungkin sudah sangat terlambat, namun masih ada harapan.Mas Nadiem adalah seorang leader cerdas, jujur dan baik hati, lebih dari itu Indonesia membutuhkan seorang pemberani! Dan saya yakin Mas Nadiem lah salah satu pemimpin pemberani itu!

Mohon jangan bermain lagi dengan waktu, Merdekakan Bangsa Indonesia dari penjajahan nalar Bangsa Gurun.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: