Kolom Asaaro Lahagu: SELANGKAH LAGI — Jokowi Pecat SBY-AHY

0 0
Read Time:4 Minute, 9 Second
Asaaro Lahagu
Asaaro Lahagu

Bagi Jokowi, SBY itu menjengkelkan. Ia bukannya menikmati masa pensiun setelah menikmati 2 periode menjadi presiden, tetapi malah merecoki kerja Jokowi. Prihatin di Twitter, prihatin saat konferensi pers, prihatin disindir-sindir, dizalimi dan seterusnya. Ia kerap mengeluarkan nada sumbang soal kerja Jokowi. Capek deh.

Sebagai contoh di tahun 2016, SBY mau gagah-gahan.

Ia melakukan Tour The Java pada tahun itu untuk mengiklankan hasil pembangunan infrastrukturnya. Sadisnya, SBY meminta Jokowi agar tidak menghamburkan uang untuk pembangunan infrastruktur.

Kata SBY, infrastruktur bukan prioritas. Inilah salah satu dari sekian banyak sikap SBY yang menjengkelkan Jokowi.

Tentu saja Jokowi punya banyak peluru untuk menyerang balik SBY. Satu peluru dilepaskan cukup ampuh membuat SBY tak berkutik. Jokowi cukup mendatangi Hambalang dengan muka ketus dan menggeleng-gelengkan kepala di sana, maka Tour the Java ala SBY itu hangus seketika.

Bagi Jokowi, posisi SBY ini bagai singa yang siap menerkam. Ia mematai-matai Jokowi. Ia menunggu.

Begitu Jokowi terpeleset, SBY ikut nimbrung menghabisinya bersama lawan-lawan Jokowi yang lain. Artinya SBY menunggu memancing. Begitu keruh SBY ikut memancing. Jadi memancing di air keruh. Menunggu kesempatan. Kira-kira begitu.

Jokowi merasa berada di ujung moncong ‘senjata’ SBY yang setiap saat meletus. Ini jelas berbahaya. Maka sangat perlu melumpuhkan moncong senjata SBY itu. Moncong senjatanya adalah Partai Demokrat.

Keriuhan, kegaduhan dan ketidakpuasan kader-kader Demokrat karena SBY menjadikan partai itu menjadi partai keluarga, menjadi kesempatan bagi Jokowi. Tanpa banyak energi keluar, Jokowi bisa melumpuhkan moncong senjata SBY itu.

Ada banyak tangan kanan, pendukung atau barisan Jokowi yang tentu membaca kesempatan ini.

Jelas Jokowi tidak perlu kedipkan mata, bersiul atau berbisik. Orang-orang di sekitarnya sangat paham apa yang dilakukan. Mereka tidak perlu diberi aba-aba. Mereka paham apa yang perlu dilakukan.

Salah satu orang yang sangat paham situasi adalah Moeldoko, Jenderal cerdas namun kalem.

Ajakan ngopi-ngopi bersama kader Demokrat direspon positif oleh Moeldoko. Dan seperti yang kita tahu, SBY-AHY membaca gelagat ini dengan reaktif. Keduanyapun meneriaki Moeldoko bagai maling, mau curi Demokrat.

Tentu saja Moeldoko berang.

Demokrat bukan barang ‘Nenek Lu’. Itu rumah para kader. Ketika para kader mau ambil rumah mereka sesuai aturan, maka tidak bisa disebut pencuri. Mereka adalah penyelamat rumah. Dan ketika rumah itu dialihkan ke Moeldoko untuk dijaga, diatur dan dikinclongkan, ya sah-sah saja.

Keberangan Moeldoko pun semakin membuih karena namanya terus disebut.

Ia pun mengeluarkan suara garang. “Saya, jangan ditekan-tekan,” ucap Moeldoko menggema. Moeldoko pun berbalik menekan balik. Dan hari ini KLB Jumat 5 Maret, 2021 di Sibolangit (Sumut) mengangkat Moeldoko sebagai Ketum Demokrat. Moeldoko dengan sigap menyatakan siap.

Menarik menyaksikan kisruh di Demokrat. SBY jelas salah taktik.

Ia bukan mendekati dengan silent para kader yang mencanangkan KLB, malah ia menguak aib dengan istilah militer ‘dikudeta’. Dan kini nasi telah jadi bubur. KLB Demokrat telah dilangsungkan. Demokrat pun mulai kisruh, terbelah dan tercerai-berai.

Dua kubu punya kekuatan masing-masing. Aksi keduanya akan saling serang, saling hantam dan saling menjegal akan menjadi menu ke depan. Tentu ujungnya tidak ada yang hancur lebur dengan cepat namun pertempuran akan berlarut-larut.

Pada akhirnya setelah capek baku hantam, kedua kubu akan berembuk dan melakukan KLB baru. Tentu kedua kubu akan memilih sosok yang lebih netral menjadi Ketum baru. Namun sebelum itu terjadi, perlu baku hantam dulu. Latihan jegal dan adu jotos.

Hal yang menarik adalah pengesahan KLB baru di Demokrat dalam beberapa hari ke depan.

Jika KLB itu memenuhi syarat sesuai AD-ART-nya maka Kemenhukam akan mengeluarkan SK. Dan tentu sebelum Yasonna Laoly mengeluarkan SK, harus ada kerlipan mata dulu dari Jokowi dan PDIP. Jika pada akhirnya SK keluar, maka pada saat itu Jokowi pecat SBY-AHY.

Jokowi tentu tidak ambil pusing. Persoalan internal partai silakan diselesaikan sendiri. Jika Demokrat ribut, itu malah bagus. Jokowi bisa fokus bekerja, kerja dan kerja. Silakan kalian meributkan KLB dan SK pengesahan. Silakan baku hantam. Nanti capek sendiri.

Hal yang menarik lainnya adalah taktik memecat para Ketum partai. Ternnyata taktik memecat Ketum Partai dalam sejarahnya terlihat cukup ampuh. Jokowi pernah memecat Aburizal Bakri sebagai Ketum Golkar. Berhasil. Jokowi juga pernah memecat Ketum PPP Suryadharma Ali. Berhasil.

Ketum Partai Berkarya baru-baru ini, Tommy Soeharto, juga dipecat, namun masih ribut di PTUN. Amin Rais dipecat juga dari PAN, dan kini memilih jadi Youtuber. Terbaru, SBY-AHY akan terancam juga dipecat dari Demokrat.

Tentu aksi pecat ini awalnya kisruh. Dan itu biasa dalam politik. Yang dipecat akan melawan dengan menggunggat di PTUN. Ya, silakan saja digugat sampai di Mahkamah Agung atau ke ujung dunia. Dan ini akan memakan waktu kurang lebih dua tahun. Cukup menghabiskan energi.

Dan pada akhirnya kedua kubu capek sendiri dan bersedia duduk bareng.

Mau tidak mau, suka tidak suka, SBY-AHY kini harus menyiapkan banyak energi untuk bertempur. SBY yang seharusnya istirahat santai di Cikeas sambil menikmati permainan alunan gitarnya, kini dipastikan tidak bisa tidur. Ia dipaksa turun gunung bertempur dan berduel langsung dengan Moeldoko.

Tentu Moeldoko bukan lawan kaleng-kaleng. Jelas ia lawan kelas berat. Jika SBY-AHY salah taktik, keduanya bisa masuk parit. Begitulah kura-kura.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

One thought on “Kolom Asaaro Lahagu: SELANGKAH LAGI — Jokowi Pecat SBY-AHY

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: