Skip to toolbar

Kolom Juara R. Ginting: DATA DAN INFORMASI — Kentut Solusi di Pilkada Karo 2020 (Bagian 5)

0 0
Read Time:3 Minute, 30 Second

Adalah seorang missionaris Belanda yang dikirim oleh NZG ke Suku Karo, namanya Mien Joustra. Suatu hari dia memutuskan berhenti dari NZG dan mendirikan Batak Instituut di Leiden yang program-pogramnya, sebagaimana terlihat di kemudian hari, adalah meningkatkan peran serta masyarakat sekitar terhadap kelangsungan perkebunan asing di Sumatra Timur.

Itu terutama dalam soal kebutuhan pangan.

Salah satu diantara program-program mereka yang bisa dikatakan sukses adalah menyediakan “tanah kanaan” kepada orang-orang Batak dari Tano Batak di perkebunan-perkebunan asing di Langkat, Deli, Simalungun, Asahan, dan Labuhan Batu.

Beda dengan kuli dari Jawa yang dikontrak semata-mata untuk bekerja di perkebunan, kepada para transmigran Batak ini disediakan pemukiman dan lahan luas untuk bersawah.

Tujuan konkritnya adalah memproduksi beras memenuhi kebutuhan kebun, terutama para kuli kontrak. Tujuan politisnya adalah melibatkan Gereja Batak (HKBP) yang merasa diuntungkan pula karena Tanah Kanaan atau Tanah Perjanjian di dalam Alkitab itu nyata, bukan hanya dalam Sejarah Israel.

KETERANGAN FOTO: Bangunan ini dimaksudkan pengganti Museum Raya yang musnah dibakar kaum nasionalis di Masa Agresi Militer Belanda (1947-1949). Museum Raya yang terbakar itu dibangun oleh missionaris J.H. Neumann di Masa Kolonial di atas lahan percobaan sayur Kuta Gadung (Raya) di antara jalan Raya Berastagi – Kabanjahe.

Dengan Karo, Batak Instituut melakukan kerjasama dengan Gereja Karo (Karo Kerk) yang sekarang bernama Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), sejak 1941, setelah Jerman menguasai Belanda di Perang Dunia II dan HKBP turut campur tangan dalam kelangsungan Gereja Karo. Tapi kerjasamanya dalam bentuk lain.

Batak Instituut mengirim Tuan Botje ke Berastagi (tepatnya Desa Raya) untuk melakukan percobaan pertanian, setelah melihat cuaca Berastagi sangat mirip dengan cuaca Belanda.

Tempat itu kemudian dikenal dengan Kuta Gadung dimana gadung yang dimaksud adalah kentang karena diawali dengan percobaan dan pengembangan kentang untuk makanan para staf perkebunan yang umumnya orang Eropah atau Amerika.

Sebagaimana Tuan Botje kemudian menuliskannya dalam sebuah artikel kecil, dia terkagum-kagum karena orang-orang Karo cepat sekali melakukan alih teknologi pertanian yang dimiliki orang-orang Belanda.

Bukan hanya kentang, mereka juga mengembangkan berbagai jenis sayur yang biasa dikonsumsi orang-orang Belanda.

Itu sebabnya nama sayur-sayur itu kebanyakan Bahasa Belanda: Tomat, buncis, arcis, kol, prei, wortel, selderei, dan lain-lain.

Tak lama kemudian terjadi kelebihan produksi. Orang-orang Karo sendiri belum terbiasa makan sayur-sayuran, terutama sayuran Belanda itu. Mereka sesekali memetik tumbuhan liar seperti paku (pakis) atau memasak nangka nguda untuk pesta pekawinan atau umbut pisang untuk acara kematian (semuanya campuran daging).

Dari satu sisi, Pemerintah Belanda senang dengan kehebatan para petani Karo memproduksi sayur mayur sehingga mereka tidak harus mengembangkan perkebunan sayur di Dataran Tinggi Karo dan mendatangkan buruh lagi dari luar Sumatra. Di sisi lain, mereka juga harus menjaga agar para petani Karo tetap bergairah meneruskan pertanian sayur mayur itu.

Jalan keluarnya adalah menembus pasar Malaysia dan kemudian mengekspor sayur mayur Karo ke sana. Pasar Berastagi pun dibuka sehingga perlahan Berastagi berkembang menjadi kota. Walaupun pertanian baru ini hingga tahun 1970an masih berpusat di sekitar Berastagi saja, sejak itu pula uang mulai menjadi alat tukar utama di kalangan orang-orang Karo.

Meskipun sebuah perusahaan bus Berastagi Pekan-pekan bernama Segantang Sira, karena ongkosnya seharga satu gantang garam, jelas sekali kernetnya hanya menerima uang kontan dan akan menolak kalau dibayar dengan sira segantang

BERSAMBUNG

FOTO HEAD COVER: Di sela-sela bercocok tanam, perempuan Karo juga harus tetap menjadi ibu yang baik bagi anak-anak mereka. Julia br Sembiring, 39 tahun, selalu mengajak anaknya, Adelia br Meliala pergi ke ladang. Dengan kasih sayang, anak berusia 6 tahun itu diajarinya bagaimana bercocoktanam. Itu ia lakukan agar kelak sang anak tak lupa bahwa ladang adalah sumber kehidupan mereka. Sumber: ANDRI GINTING di Beritagar.id.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: