Skip to toolbar

Tragedi 65 dan Nasib Gerwani Setelah Orde Baru (Bagian 1)

0 0
Read Time:4 Minute, 2 Second


Oleh: Bastanta P. Sembiring

Siang itu matahari begitu terik. Namun masih kalah dengan keceriaan kami. Aku dan teman-teman seperti biasa berjalan pulang sekolah menyusuri jalan tanah berbatu, yang jika di musim kemarau berabu dan di musim penghujan akan becek.

Tak jarang ada genangan air seperti kolam yang membuat kami harus membuka sepatu untuk melewatinya.

Masa itu masih jarang yang punya sepeda motor, apalagi mobil. Sepeda dayung masih ramai lalu lalang, bukan karena trend masa pendemi seperti saat ini, tetapi memang itulah alat transportasi yang ada.

Taik lembu juga masih sering ditemui di jalan.

Bermain sepulang sekolah itu pengalaman yang berharga, karena sesampai di rumah, kadang tak sempat makan siang di rumah, harus ke sawah/ ladang membantu orangtua. Walau kedua orangtua kami Pegawai Negeri Sipil (PNS), hal ini juga berlaku bagi kami untuk menghindari beras catu atau beras ransum (beras pera). Masa itu PNS susah, jadi harus ada sampingan biar bisa hidup sejahtera.

Kedua orangtua kami sepulang kerja sebagai PNS, bertani dan beternak. Mulai dari memelihara ikan, babi, ayam, itik; menanam padi, pisang, dan tanaman keras.

FOTO: Putmuinah, Ketua Gerwani Kabupaten Blitar

“Dasar kau Gerwani!” teriak seorang pria kepada seorang nenek!

Masa itu, sebutan Gerwani memiliki arti/ konotasi negatif di masyarakat umum. Semua prilaku perempuan yang buruk, hina dan menjijikkan dilabel dengan sebutan Gerwani kala itu.

Orang-orang di warung yang kami lewati pun saling berbisik sinis, “ia… memang dia itu eks Gerwani!”

Aku yang sedikit banyak mengikuti perkembangan politik dari radio dan televisi serta suka baca buku-buku sejarah dan biografi, juga sering bercerita dengan bulang (kakek) dan orangtua di kampung kami, memiliki sedikit informasi yang berbeda dari teman-teman seusiaku saat itu. Yang membuat orangtuaku kadang was-was dengan prilakuku itu.

Betapa terkejutnya aku mendengar itu (Gerwani). Kulihat si nenek diam membisu. Seketika tubuhnya seperti membeku kaku. Membuahkan rasa ibaku.

Tetapi, tak berselang lama dia seperti terbangun dari tidurnya dan mulai berorasi berapi-api tentang kehebatan bapaknya, yakni Soekarno. Itulah bapaknya, katanya. Pujaan hatinya.

Seketika aku takjub mendengarnya. Dia fasih bercerita tentang tokoh idolaku (Soekarno). Ya, sejak kecil aku sudah mendengar cerita-cerita kehebatan Soekarno, Tan Malaka, Sun Yat Sen dan Gandhi. Disambung dengan Nelson Mandela dan Paus Johanes Paulus II yang masih sempat kulihat di televisi. Mereka adalah idolaku.

Gerwani atau singkatan dari Gerakan Wanita Indonesia adalah organisasi wanita yang terkait dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Walau sesungguhnya ini organisasi sosialis dan feminisme yang independen yang fokusnya pada perjuangan hukum-hukum perkawinan, hak buruh dan nasionalisme dalam diri wanita Indonesia.

Berdiri pada Juni 1950 (semula Gerwis), kemudian diresmikan pada 25 Januari 1954. Organisasi wanita yang pesat perkembangannya. Di tahun 1957, Gewani tercatat memiliki 650 ribu anggota dan di tahun 1965 sudah mencapai 1, 5 juta anggota yang tersebar di seluruh Indonesia.

Organisasi ini dekat dengan Presiden Soekarno terkait nasionalisme dan sosialisme, namu tak selamanya sepaham, karena tindakan poligami Soekarno.

Pasca terjadinya tragedi 1965, dimana PKI dalam versi Orde Baru dituduh sebagai dalang dari kejadian kelam ini, Gerwani juga turut imbasnya. Bahkan tidak sedikit kisah pilu yang dialaminya masa Soeharto berkuasa dan menjadikan Gerwani sebagai organisasi terlarang.

Dalam narasi resmi Pemerintah Orde Baru yang kemudian ditampilkan dalam sinematografi berjudul “Penumpasan Penghianatan G30S/PKI”, Gerwani ditampilkan sebagai kumpulan wanita sadis dan tak bermoral. Maka tak jarang, di masa Orde Baru, Gerwani diangkat sebagai contoh amoral dalam komunikasi, baik formal maupun non-formal.

Dalam film “Penumpasan Penghianatan G30S/PKI” yang diproduksi oleh Perum Produksi Film Negara (PPFN) yang disponsori oleh Orde Baru ini, film yang rilis 1984, berdurasi 4 jam 31 menit, yang menelan biaya produksi hingga Rp 800 juta ini, juga turut menunjukkan keterlibatan dan peran aktif Gerwani di Lokasi Lubang Buaya, lokasi dimana diyakini terjadinnya penyiksaan terhadap perwira TNI yang sebelumnya diculik oleh Cakrabirawa.

Gerwani juga ditunjukkan (tanpa sensor) melakukan tindakan sadisme, mulai dari memukul dengan benda tumpul, penikaman, hingga penyayatan terhadap para jenderal.

Dalam laporan visum tahun 2000, tidak ditemukan adanya penyayatan alat kelamin dan penyiksaan lainnya, sebagaimana cerita yang dibangun Orba selama ini.

Film yang dari beberapa sumber dikatakan yang awalnya dijuduli “Sejarah Orde Baru” namun berubah menjadi “Penumpasan Penghianat G30S/PKI” ini, selama masa Orde Baru menjadi bahan tontonan wajib. Mulai dari anak kecil hingga orangtua (laki-laki dan perempuan), tanpa sensor dan masuk dalam materi pembelajaran di sekolah.

Saya ingat saat masih masa sekolah, jelang 30 September guru mengingatkan agar jangan lupa menonton film sadis ini, karena keesokan harinya akan ditanya dan diujiankan.

Jujur, engganan saya menontonnya, karena takut dan ngilu melihat adegan berdarah tanpa sensor itu.

Bayangkanlah hai generasi milenial yang waras! Bagaimana perasaanmu saat masih kanak-kanak yang harusnya nonton film Unyil atau Sesame Street, tapi dipaksa nonton film sadis ini?


Bersambung …

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: