Skip to toolbar

Kolom Asaaro Lahagu: ANIES BIANG KEKALAHAN PRABOWO DI JAKARTA (Sirulo TV)

0 0
Read Time:4 Minute, 30 Second
Asaaro Lahagu
Asaaro Lahagu

Dari hasil perhitungan real count sementara di KPU, Jokowi-Ma’aruf unggul atas Prabowo-Sandi di Jakarta. Padahal pada Pilgub DKI 2017 lalu, Anies dipilih oleh 58% warga DKI Jakarta. Porsi 58% ini digadang-gadang menjadi modal besar Prabowo dalam Pilpres 2019.

Tak mengherankan saat quick count merilis kemenangan Anies-Sandi atas Ahok-Djarot pasca pencoblosan 19 April 2017, Prabowo langsung bersukacita.

Prabowo saat itu sangat bahagia dan terlihat terbang ke langit ke tujuh. Dia sudah membayangkan salah satu diantara Anies-Sandi nantinya bisa menjadi Cawapresnya.

Dalam benak Prabowo, kemenangan Anies-Sandi di Jakarta akan dimanfaatkan sebagai ikon kesuksesan Prabowo untuk memenangi Pilpres 2019. Prabowo sangat berharap kepada Anies dan Sandi agar mereka bisa meniru Ahok dalam menggebrak kemajuan Jakarta. Dari etos kerja hebatnya nanti, Anies atau Sandi bisa mendongkrak elektabilitas Prabowo.

Lebih jauh, dalam kalkulasi Prabowo, jika Anies sukses mengguncang Jakarta, mengubah wajah Jakarta menjadi sangat tertib, displin, sukses mengurangi kemacetan, menghilangkan banjir dan memanfaatkan betul APBD, maka prestasi itu akan bisa diklaim oleh Prabowo. Alasannya, Prabowolah yang mengorbitkan Anies-Sandi menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Watch this video on YouTube.

Namun, apa yang terjadi kemudian? Jakarta di bawah Anies menjadi auto-pilot. Jakarta terlihat jalan sendiri, bergejolak sendiri dan riuh-rendah sendiri. Etos kerja aparat ASN di Jakarta yang berjumlah lebih 60 ribu orang itu tak mampu digenjot oleh Anies untuk memajukan Jakarta.

Beberapa kawasan di Jakarta di Era Anies semakin mundur ke belakang. RPTRA Kalijodo yang dulu dibanggakan oleh Ahok, misalnya, sekarang terlihat kumuh. Itu hanyalah salah satu contoh. Jangankan membangun yang baru, yang sudah ada saja tidak mampu dirawat oleh Anies.

Kemunduran besar Jakarta di Era Anies terlihat dalam pengelolaan dan antisipasi banjir. Di Era Anies, pengerukan besar-besaran sungai di Jakarta terhenti 2 tahun. Anies terlihat terpenjara oleh idenya soal naturalisasi sungai. Konsep Anies soal naturalisasi sungai tak jelas alias kacau balau.

Akibatnya, saat Jakarta dilanda banjir, Anies gagap. Ia bingung. Akalnya tak jalan. Teorinya stagnan. Macet. Teori terkenal Anies: vertical dranase tahun 2017 menjadi hanya omong kosong. Teori itu tak bisa diterjemahkan oleh Anies dan menerapkannya secara nyata di Jakarta.

Dulu, saat berdebat dengan Ahok, Anies begitu yakin, hebat dan mengagumkan membeberkan teori vertical drainasenya. Saat itu Anies dengan percaya diri mampu mengatasi banjir di Jakarta dengan sebuah konsep. Konsep itu menurutnya harus sesuai dengan tabiat banjir, hujan, awan dan fenomena alam.

Menurut Anies, banjir dan curahan hujan dari langit tidak bisa dilawan. Alasannya, karena kodrat air harus masuk ke dalam bumi dan bukan dialirkan ke laut. Membuang dan mengalirkan banjir ke laut adalah melawan kodrat. Banjir harus diresapkan ke dalam bumi.

Watch this video on YouTube.

Lalu, apa yang terjadi? Banjir besar sedalam 3,5 meter pada bulan April ini, memporakporaknda Jakarta. Banjir membuat warga Jakarta menderita. Bukan hanya menderita materi tetapi juga ada yang kehilangan nyawa mereka. Anies termakan konsepnya naturalisasi sungai dan vertical drainase.

Tak heran, warga Jakarta kini kembali mengingat proses terpilihnya Anies naik menjadi gubernur. Saat itu Anies menang bukan karena prestasi dan ide-idenya, ia menang karena isu agama. Dan, itu terbukti pada 100 hari pertamanya.

Saat mulai menjadi gubernur, Anies malah menutup komunikasi langsung dengan warganya. Ia meniadakan siaran rapat-rapat di youtube, menghindari bertemu dengan warga di balai kota dan menikmati dengan tenang duit miliaran Rupiah, dari dana biaya operasionalnya sebagai gubernur.

Sesudah itu, tak banyak yang tahu apa yang dikerjakan Anies di balai kota. Yang terngiang-ngiang di telinga publik adalah kesuksesan Anies menutup Hotel Alexis dan menyegel lahan reklamasi. Setelahnya ia hanya kerap muncul saat bersama Jokowi meninjau proyek MRT di Jakarta. Lalu kemudian tenggelam.

Akhir-akhir ini nama Anies muncul kembali di permukaan ketika ia berencana menghapus PBB gratis rumah di bawah Rp 1 miliar. Namanya semakin berkibar pada bulan April ketika banjir sedalam 3,5 meter menerpa sebagian wilayah Jakarta.

Berkibarnya nama Anies itu bukan karena prestasinya atau ide briliannya. Akan tetapi karena kebijakan dan ketidakmampuannya mengelola Jakarta terutama soal penangan banjir. Dan, sejak hari Jumat sampai Sabtu ini, Anies kembali disumpahi soal penanganan banjir.

Watch this video on YouTube.

Kiriman banjir dari Bogor tak mampu ditangani Anies dengan cepat dan tuntas. Tak ada antisipasi sebelumnya. Pasukan-pasukan oranye zaman Ahok bekerja luar biasa, tetapi di era Anies menjadi loyo. Mereka bekerja malu-malu kucing dan tidak lagi bekerja dengan penuh dedikasi.

Itulah gambaran kinerja Anies di Jakarta. Jika dikaitkan dengan Pilpres, maka harapan Prabowo kepada Anies agar ikut memenangkannya di Jakarta gagal total. Jangankan membuat Prabowo menang telak, menang 58% saja sangat sulit.

Jelas Masyarakat Indonesia sangat mudah membandingkan janji-janji muluk Prabowo dengan janji-janji muluk Anies dulunya saat kampanye. Dulu juga Anies sesumbar mengatakan ia akan merubah wajah Jakarta. Setelah hampir 2 tahun menunggu, ternyata Anies sukses mengubah wajah Jakarta kembali ke zaman dulunya. Kembali liar.

Para pedang liar, parkir liar dan para preman liar kembali merajalela. Kemacetan tambah parah dan banjir menjadi langganan warga Jakarta. Gambaran kemunduran wajah Jakarta di tangan Anies inilah menjadi pertimbangan Masyarakat Indonesia dalam memilih Prabowo.

Hasilnya, Masyarakat Indonesia kebanyakan tidak memilih Prabowo. Bahkan di Jakarta sendiri, masyarakat sebagian besar tidak memilih Prabowo. Salah satu alasannya karena kinerja Anies, etos kerja Anies yang merupakan kaki tangan Prabowo, tidak becus. Bisa dikatakan, Anies adalah biang kekalahan Prabowo, sekurang-kurangnya di Jakarta. Begitulah kura-kura.

Watch this video on YouTube.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: