Pembunuhan Yesmelina Br Girsang 'terungkap Dan Tidak
Keluarga korban (Dasma Banurea dan Dikman Banurea)) saat dikonfrontir di Ruang Kanit Reskrim Polsek Delitua.[/caption] IMANUEL SITEPU. DELITUA. Tewasnya Yesm…
"Di sinilah awal kecurigaan pihak keluarga Yesmelina kalau yang membunuh korban adalah suaminya Dikman. Dia tidak pernah memberitahu kepada keluarga istrinya kalau korban lagi sakit dan dirawat di RSU H. Adam Malik," kata Martualesi Sitepu.
Lanjut dikatakanya, dari hasil penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan Polsek Delitua, setelah memeriksa 11 saksi, termasuk teman korban satu kamar ketika dirawat saat itu yang bernama Lumongga br Simbolon (warga Jl. Mawar Perumahan Melati Indah, Siantar), membenarkan sebilah pisau yang ditemukan di TKP adalah miliknya. Sehari sebelum kejadian , pisau tersebut dipinjam oleh anak korban Dasma br Banurea untuk memotong buah.
"Semula, keenam luka tusukan yang dialami korban dicurigai keluarga karena dilakukan oleh orang lain. Ditambah lagi, suami korban berusaha menutupi kejadian yang menimpa istrinya," kata Martualesi.
Lebih jauh dikatakanya, terungkapnya kematian korban di Polsek Delitua.
"Saat itu, kita mempertemukan pihak keluarga korban yang keberatan, suami korban Dikman Banurea dan anak korban yang menerangkan bahwa korban ditemukan tewas berlumuran darah. Korban Yesmelina br Girsang seusai mandi berkata kepada anaknya: 'Dang be sonai inang buat ma rondap mate ma au ' (ambilah racun, aku mau mati saja, red.). Mendengar ini, anak korban Dasma Banurea yang menemani ibunya berkata 'jangan mak'," tutur Martualesi Sitepu.
Tak lama setelah itu, sekira Pkl. 10.00 Wib, Dikman Banurea mengSMS Dasma Banurea untuk mengatakan agar Dasma turun membawa kartu karena Dikman ditahan oleh Satpam sehubungan dia tidak membawa kartu berobat. Ketika isi SMS itu ditunjukkan oleh Dasma kepada korban Yesmelina, korban meminta kepada anaknya agar segera menjumpai Dikman ke bawah. Begitu Dasma dan Dikman kembali ke kamar tempat Yesmelina dirawat, mereka melihat korban telah meregang nyawa dengan menderita luka tusukan.
"Keterangan dari Dasma menjadi petunjuk yang kuat. Ditambah lagi keterangan dokter Forensik yang mengatakan luka 6 tusukan pada bagian perut korban bisa dilakukan oleh korban sendiri sehubungan luka pada perut korban saling berdekatan. Lagi pula, bentuk luka searah. Dokter juga menjelaskan, keenam luka tusukan tidak sama kedalamannya," paparnya.
Sambung Martualesi lagi, adanya luka memar di tubuh korban akibat pemasangan infus atau suntikan yang dilakukan oleh Dokter sebelum korban tewas.
"Namun demikian, sampai saat ini anak korban Dasma belum terima kepergian ibunya. Oleh karena itu, perkara ini tetap kita tindak lanjuti dengan melakukan penyelidikan dengan menghadirkan saksi lain," tutur Martualesi mengakhiri.