← Beranda Budaya · Hukum · Lingkungan · Pariwisata · Pedesaan · Politik · Sel, 19 Agu · 3 mnt baca
Asal Usul Nama Oleh: Denh Sembiring Maha (Laubaleng) Pada suatu masa, hiduplah satu keluarga yang sudah lama menetap di daerah pinggiran Tongging bermerga Ginting Munte. Ma…
Seiring perjalanan Ginting Munte mencari daerah untuk menetap, dia dan keluarganya pun singgah di sebuah tempat untuk beristirahat dan memakan durian di sana. Biji durian yang dimakan oleh keluarga Ginting Munte inilah yang menjadi cikal bakal nama Kuta Durin Rugun. Secara tidak sengaja, keluarga Ginting Munte memakan buah durian dan mengumpulkan bijinya dan kemudian tumbuhlah banyak batang durian yang berkumpul (emekap durin rugun ).
Setelah beristirahat, keluarga Ginting Munte akhirnya melanjutkan perjalanannya. Menyusuri jalan setapak, keluarga ini kemudian menemukan sebuah daerah yang dikelilingi oleh air. Air yang terdapat di daerah ini sama persis dengan yang terdapat di kampung asal Ginting Munte. Keluarga ini kemudian memutuskan untuk menetap di sana.
Hari berganti hari bulan berganti bulan datanglah sekelompok orang yang mengusik keluarga tersebut. Para pengusik dikatakan berasal dari merga Kembaren. Kembaren ini adalah raja atau sibayak pada masanya. Kembaren mergana mengakui jika tempat yang ditempati oleh Ginting Munte bersama keluarganya adalah tanah mereka (tanah kerajaan Kembaren Liang Melas). Melawan pasukan Kembaren Liang Melas[/one_third]
Pasukan Kembaren Liang Melas selalu melakukan serangan secara gencar ke daerah tempat tinggal keluarga Ginting Munte. Beberapa lama kemudian, datanglah seorang pemuda yang berjalan dari arah Kutacane ke daerah keluarga Ginting menetap, yang diyakini oleh banyak orang berketurunan Pakpak. Pemuda ini bukan seperti orang biasa tetapi mempunyai kemampuan bela diri dan kesaktian. Ia membantu keluarga Ginting Munte untuk melawan pasukan Kembaren Liang Melas dan memukul mundur mereka dari daerah sekitar kekuasaan keluarga Ginting Munte.
Melihat dari perjuangan pemuda ini, keluarga Ginting Munte pun meminta si pemuda untuk menetap di daerah mereka dan bertugas sebagai penjaga dari serangan pasukan Kembaren Liang Melas. Keluarga tersebut menawarkan salah satu anak dari keluarganya untuk dinikahi asalkan si pemuda mau menetap. Dari ketujuh perempuan yang disuruh dipilih, pemuda tersebut memilih yang paling pendiam (persinik ), sebab si pemuda tersebut adalah seorang yang memiliki sifat temperamental (perampus ).
Meski wilayah Ginting Munte sudah dijaga oleh si pemuda, pasukan Kembaren Liang Melas masih tetap melakukan serangan ke daerah tersebut dengan berbagai cara. Keluarga Ginting Munte tidak kehilangan akal. Mereka menyuruh si pemuda untuk membentengi (mbalengi ) seluruh air batas daerahnya. Sang pemuda pun akhirnya membuat baleng (membatasi/ benteng) sekeliling daerah dengan kelapa dan menjagai batas-batas daerah kuta yang sudah didirikan (ipanteki ) Ginting Munte.
Dengan baleng inilah keluarga Ginting Munte menjadi aman dari serangan musuh. Keberadaan kuta yang dibalengi dengan pohon-pohon kelapa, dimana kuta ini juga dikelilingi oleh aliran air, maka kuta itu hingga saat ini dikenal dengan Laubaleng atau dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya adalah kampung berbenteng dan dikelelingi oleh aliran air.
Berita terkait:
Erkata Bedil Semarakkan Laubaleng
Penurunn Bendera Berlangsung Khidmat di Laubaleng
Kok Kuda Lumping yang Tampil di Laubaleng? mat
Artikel ini disajikan sebagai informasi umum. Sorasirulo tidak bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil berdasarkan konten ini. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi.