Oleh: M.U. Ginting (Swedia) Ide - aksi - gagal. Seterusnya ide - aksi - sukses Ini berlaku sepanjang masa dan di mana saja. Karo tak perlu takut kegagalan, k…
Oleh: M.U. Ginting (Swedia) Ide - aksi - gagal. Seterusnya ide - aksi - sukses
Ini berlaku sepanjang masa dan di mana saja. Karo tak perlu takut kegagalan, karena kegagalan adalah pelajaran. Pelajaran yang sangat berharga, tidak bisa diperoleh dari sekolah, sekolah apa sajapun atau sekolah tinggi apapun, walau dengan biaya setinggi apapun. Kalau Karo gagal kali ini, tapi sudah berhasil menjalankaan dan mencapai misinya, yaitu melahirkan GERAKAN PENYATUAN tadi.
Mengapa kita harus memilih orang Karo, bukan memilih orang Mandailing atau Batak?
Bahwa orang Karo akan memilih orang Karo untuk memimpin daerahnya sendiri adalah satu pemikiran rasional dalam cultural revival dunia, tak ada keraguan. Tak masuk akal juga kalau dibilang orang Karo lebih bodoh dari etnis lain, walaupun orang Karo banyak ketinggalan sebagai akibat dari ketajaman ethnic competition yang tak terelakkan, terutama dalam segi-segi ekonomi maupun lapangan lain yang sangat menyolok kelihatan yaitu dalam soal jabatan/kekuasaan.
Ethnic-rivival atau Cultural-revival dunia adalah revolusi besar kultural, adalah arus perkembangan sosial dunia yang sangat terlalu dahsyat untuk ditentang, berpura-pura tidak tahu atau tak urusan, misalnya dengan sikap pro ’persatuan dan kesatuan’ sehingga tidak harus memilih Karo.
Pengaruh pergolakan ethnic-revival ini dengan segala macam bentuknya termasuk perang etnis yang sangat kejam dan makan jutaan korban jiwa di banyak tempat di dunia juga Indonesia (Kalbar, Kalteng, Maluku dll). Ini merupakan pencerminan nyata ’revolusi’ etnis/kultur itu sangat masuk ke darah daging dan jiwa orang Karo.