Harga Mati Jati — Sorasirulo
← Beranda

Harga Mati Jati

Oleh: Romero Cello Ginting (Yogyakarta) Penulis bersama istri yang Suku Jawa (Jogja) saat mengunjungi kuta kemulihen Dokan (Kecamatan Merek, Karo Gugung)[/ca…

Harga Mati Jati

Belajar dari keistimewaan Yogyakarta yang beberapa saat lalu sempat terusik oleh Presiden SBY, bahwa ada rencana pemerintah untuk mencabut keistimewaan Yogyakarta. Ini tentunya membuat gusar para ningrat Yogya, abdi dalem, rakyat Yogya dan orang-orang yg mempunyai hubungan emosional dengan Jogja sehingga muncul statement dari Jogja bahwa keistimewaan adalah HARGA MATI.

Kalau dilihat dari sejarah bahwa Nageri Ngayogyakarto Hadiningrat (disebut JOGJA/Yogya) sebelumnya adalah sebuah negeri yang berdaulat dan mempunyai andil yang besar dalam perjuangan Kemerdekaan RI. Bahkan, Pemerintahan RI sempat meminta pertolongan kepada Nageri Ngayogyokarto supaya bisa menumpang untuk sementara menjalankan roda Pemerintahan RI.

Namun, ketika Republik Indonesia sudah memperoleh kemerdekaannya, maka Nageri Ngayogyokarto pun menawarkan diri untuk bergabung dengan NKRI, tapi dengan batasan-batasan yang disepakati. Sungguh tidak beradab dan tidak tahu berterimakasihlah Pemerintah Indonesi apabila berencana menghilangkan Keistimewaan JOGJA. Jogja akhirnya lebih memilih sebagai negeri yang merdeka dan memisahkan diri kembali dari Indonesia seperti sebelum nya. // Identitas Suku[/two_third]

Sama halnya dengan identitas sebuah suku. Suku-suku yang secara geografis letaknya berdekatan sangat memungkinkan terjadinya percampuran budaya. Bisa terjadi karena kesepakatan, perkawinan, dan lain-lain. Tapi, tidak patut menjadikan atau menghilangkan identitas satu dengan yang lainnya secara klaim.

Seperti beberapa waktu lalu, SRI SULTAN HB X pernah mengatakan, inilah Yogyakarta, daerah yang mempunyai adat dan budayanya sendiri sebagai identitasnya. Orang non Jawa yang berada/ tinggal di Yogyakarta tidak harus menjadi orang Jawa karena mereka memang bukan orang Jawa. Biarlah orang Dayak yang tinggal di Jogja tetap menjadi orang Dayak. Biarlah orang Batak yang tinggal di Jogja tetap menjadi orang Batak. Tidak perlu memaksakan diri atau mengidentitaskan dirinya sebagai Suku Jawa.

Sebagai contoh, ketika saya menikahi putri ningrat Jawa, maka saya juga akan diberi gelar ningrat seperti Raden Mas dll, dan istri saya juga akan mendapatken Beru sesuai adat Karo. Tapi, pemberian gelar Raden Mas tersebut tidak serta merta menjadikan saya dan keturunan saya sebagai orang Jawa.

Begitu juga dengan pasangan saya. Walau pun sudah sah secara adat menyandang beru Karo tetapi dia tetap lah keturunan Jawa. Keistimewaan JOGJA adalah HARGA MATI. KARO Bukan BATAK sama halnya dengan KARO BUKAN JAWA, juga HARGA MATI.Bovenkant formulier // //