Ekonomi · Kesehatan · Lingkungan · Pedesaan · Pendidikan··3 mnt baca
Kerja Tahun Batukarang Penuh
Oleh: Deva Alvina Sebayang Tanggal 16 JANUARI 2014 adalah Kerja TAHUN BATUKARANG. Kebetulan Kila saya baru saja meninggal tahun 2013, maka kami memutuskan un…
Oleh: Deva Alvina Sebayang
Tanggal 16 JANUARI 2014 adalah Kerja TAHUN BATUKARANG. Kebetulan Kila saya baru saja meninggal tahun 2013, maka kami memutuskan untuk datang Ke Batukarang . Untuk mencapai Desa Batukarang, kami melewati Simpangempat - Sibintun - Payung ke Batukarang. Kami memang ragu karena langit tampak memerah di jalan yang kami tuju, seakan awan sangatlah tebal. Tapi kami harus melalui itu.
Ketika melewati jalan-jalan yang penuh abu, ada perasaan mencekam, sedih melihat semua hancur. Beberapa orang bertahan dalam kondisi itu, bahkan ada yang menjemur padinya. Sepanjang jalan Sibintun aku melihat 2 anjing ( induk dan anak ) yang tergeletak. Aku pikir tertidur, tapi ketika berhenti ternyata mati. Mereka mati berpelukan, dan masih banyak anjing juga yang bergeletakan.
Setiba di BATUKARANG, HUJAN ABU yang tebal turun sehingga kami tak lama berada di sana. Tidak berani ambil resiko kabut abu yang tebal, kami memutuskan pulang dari arah jalur Singgamanik sampai Kabanjahe.
Dalam wawancara dengan penduduk setempat, ada 3 hal yang saya temukan :
1. Masih banyak warga bertahan untuk berladang dan memanen hasil kerja, tapi ada permainan harga. barang, hewan ternak dibeli murah. Mohon dicari solusi untuk itu. Sudah jatuh ketimpa tangga pula.
Warga Taneh Karo yang saat ini tertimpa bencana benar-benar di bawah tekanan. Hewan ternak dijual dengan harga murah karena tekánan pembeli. Juga hasil panen dibeli harga murah dengan alasan kena abu vulkanik.
Saya bingung, padahal di pasar harga melambung naik. Mohon diatasi agar mereka tidak dimanfaatkan. Kasihan mereka bekerja di tengah abu tapi hasilnya dibeli dengan harga murah.