← Beranda Budaya & Adat · Ekonomi · Kesehatan · Kolom · Jum, 7 Mar · 2 mnt baca
Kolom Ita Apulina Tarigan: Baju Beberapa waktu lalu, aku mengikut seorang teman berkunjung ke desanya di kaki Gunung Arjuna. Serasa menemukan desa yang sebenarnya desa. Kami singgah dan dij…
Sebulan kemudian, kain itu kembali menjadi 3 potong baju, semuanya nyaman dipakai. Lalu aku bertanya ongkos jahitnya, sungguh mati aku ternganga. Hanya 30 ribu rupiah per potong! Bagaimana mungkin, sementara di kota paling murah harganya 100 ribu rupiah per potongnya dan selalu aku sertai dengan komplain!
Kata temanku, memang ongkosnya hanya 30 ribu rupiah, seperti pelanggan ibu yang lain. Lama sekali aku renungkan pengalaman ini. Ibu hidupnya berkecukupan, rumahnya juga lumayan, ada mobil walau sederhana, ada sepeda motor. Aku berpikir lagi, bagaimana Ibu memutar uang yang sedikit itu? Belum lagi capeknya, waktunya.
Jauh dalam hati, aku menjadi malu. Apakah uang itu sebenarnya? Bagaimanakah kita memandang uang sebenarnya? Mengapa ada yang selalu kurang uang, padahal uangnya sudah banyak sekali, mengapa ada yang bisa hidup bergembira dan bahagia walau sederhana, walau tidak kenal budaya belanja?
Benar kata guruku dulu, uang bukan dari angka yang tercetak di atasnya, tetapi soal bagaimana nilainya. Mungkin bagimu 1 dollar tidak berarti apa-apa, tetapi ada orang yang sanggup membunuh demi 1 dollar.
Sampai sekarang, saya masih merenungkan baju baruku yang ongkos jahitnya hanya 30 ribu. Baju baru yang tampaknya akan menjadi favoritku seterusnya.
Artikel ini disajikan sebagai informasi umum. Sorasirulo tidak bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil berdasarkan konten ini. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi.