← Beranda Budaya & Adat · Ekonomi · Kesehatan · Kolom · Pariwisata & Kuliner · Sel, 10 Jun · 2 mnt baca
Kolom Ita Apulina Tarigan: Hari Ini, Jokowi Saya ingin menutup hari dengan indah. Kemarin, berdebar mengikuti debat Capres yang gemilang, dan hari ini, Taneh Karo dikunjungi oleh Jokowi. [/box] Jokowi …
Bagi kami orang Karo, perkenalan dengan Indonesia, jauh sebelum masa Kebangkitan Nasional. Di Pancurbatu (Arnhemia), di awal abad 19, telah dicetak koran-koran terbitan Kapitalis dan Komunis, peperangan ideologi pembebasan dan penindasan bergulir di sini. Belum lagi dengan perjuangan gerilya Datuk Sunggal melawan modal asing di Sumatra Timur yang dikoordinir Belanda, yang bekerjasama dengan Sultan Deli membabat hutan-hutan Karo untuk dijadikan perkebunan.
Orang Karo sangat Sukuis sekaligus Nasionalis, kata Juara R. Ginting dalam sebuah makalahnya yang dia sampaikan pada acara 100 Tahun Soekarno di Amsterdam 13 tahun lalu. Itu sebabnya mereka cinta setengah mati pada Bung Karno. Sepanjang Republik ini berdiri, kerasnya pergolakan di Sumatera, sekalipun orang Karo tidak pernah berkhianat kepada NKRI. //
Saya pribadi sekarang mengerti mengapa Jokowi dielu-elukan orang Karo. Kata 'Bhineka Tunggal Ika sudah final' adalah fajar baru untuk Indonesia yang sekarang tenggelam dan mundur dalam soal menghayati perbedaan. Jaminan seperti ini sangat dinantikan rakyat Indonesia yang beragam, tidak dijegal menjadi diri sendiri, tidak hanya menjadi komoditas politik oleh kelompok mayoritas, menyuarakan suaranya sendiri.
Damainya Sinabung hari ini (setelah beberapa hari lalu memuntahkan abunya) mungkin seiya sekata dengan pengharapan baru ini. Rakyat tidak meminta banyak, hanya terjamin haknya setara sebagai warga negara Indonesia dan diperlakukan secara adil.
Artikel ini disajikan sebagai informasi umum. Sorasirulo tidak bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil berdasarkan konten ini. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi.