Kolom Ita Apulina Tarigan: Ibu Pertiwi Di
Suatu malam, Ibu Pertiwi pernah datang kepadaku. Tidak ada kata terucap, hanya tatapan sayang dan senyuman hangat, sehangat pelukan. Duka lara sirna sesaat t…
“Bagaimana mungkin kami hidup jika Ibu kami tidak ada bersama kami?”
Matahari tertawa sangar menyengat kulit. Lentikan cahayanya berkata: “Sejak kapan kau mencintai ibumu? Renta uzur usianya, dihantam cangkul, traktor, bor, meneteskan airmata menahan sakit, tapi kamu anak-anaknya hanya tertawa dan pura-pura tuli.”
Setelah 69 tahun ini, mungkin Ibumu akan kami ambil. Tinggalah kamu di tanah tak berjiwa, bendera tak bernyawa. Waktumu tak lama. Jika ingin Ibumu kembali tunjukkanlah kau punya cinta. Cinta tidak kenal menyerah, meski sakit terus berjuang. //