← Beranda Budaya · Kolom · Pendidikan · Sen, 4 Agu · 3 mnt baca
Kolom M.u. Ginting: Pilpres Dan Kbb (bagian Kita masih sangat senang dan tetap bersemangat untuk mendiskusikan atau memperdebatkan persoalan KBB. Terus menggali lebih mendalam dan memperluas hakekat pe…
Menlu Amerika John Kerry sempat menyatakan pujian bahwa perkembangan demokrasi Indonesia sudah mencapai tingkat perkembangan demokrasi dunia termasuk di negerinya. Tetapi, apa yang saya lihat, perkembangan demokrasi kita bahkan sudah melangkahi perkembangan demokrasi negeri manapun, terutama dari segi transparansi dalam pelaksanaan praktis demokrasi. Perkembangan transparansi ini memang luar biasa, jauh di depan dibandingkan dengan negeri lain bahkan dengan negeri maju dunia.
Contoh yang terlihat jelas ialah dalam pelaksanaan Pilpres 2014. Di setiap TPS ada saksi dari kedua belah pihak. Tidak hanya itu, semua (masyarakat) bisa ikut jadi saksi dan banyak yang memang ikut dengan suka rela. Karena itu, pelanggaran yang ada bisa diteliti kembali ke tiap TPS. Tak ada yang bisa luput dari pemeriksaan ulang dan mencari kembali data aslinya yang dihitung secara manual dengan saksi masyarakat sendiri. Ini luar biasa!
Bagaimana di negeri maju? Di sini, dipercayakan kepada komputer dan si pembuat programnya. Kemungkinan ’kesalahan’ program dan komputer tak bisa diperiksa kembali seperti di TPS manual Indonesia yang aman dan pasti.
Saat berbincang-bincang dengan sembarang orang di Jakarta dan daerah-daerah lainnya di Indonesia, saya melihat fenomena revolusi mental (Jokowi) tengah melanda seluruh lapisan masyarakat; kelas rendah, kelas menengah maupun kelas tinggi tak ada yang ketinggalan dalam memperbincangkan Pilpres. Ini terutama dalam hal keberpihakan secara bebas dan terus terang.
Partisipasi Pilpres sampai 70% adalah salah satu tandanya. Tak pernah terjadi sebelumnya selama era Reformasi. Bicaralah dengan siapa saja di jalanan, dari tukang Bajai, tukang becak atau ojek, penjual bakso atau babi panggang (BPK). Di situ terlihat partisipasi yang sangat bergairah dan penuh semangat, betapa aktifnya orang-orang dalam mengikuti Pilpres kali ini.
Fenomena ini bisa dilihat sebagai satu proses kontradiksi (dialektika perkembangan) dimana kontradiksinya sangat menarik bagi tiap orang dan hampir tak menemukan seorangpun diantara 200 juta lebih rakyat Indonesia yang tak mengikutinya (Bersambung). //
Artikel ini disajikan sebagai informasi umum. Sorasirulo tidak bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil berdasarkan konten ini. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi.