← Beranda Budaya & Adat · Ekonomi · Kesehatan · Lingkungan & Alam · Pertanian & Pedesaan · Kam, 27 Feb · 3 mnt baca
Merawat Dialog Sinabung (bagian Oleh: Ananta Bangun (Medan) Mendengarkan dan memahami Sinabung Sebagaimana kisah dalam film heroik. Tidak melulu keburukan muncul dalam upaya bantuan bencana…
Di samping itu, bekal keahlian tersebut juga mumpuni bila kebijakan relokasi sungguh dijalankan pemerintah. Namun pendekatan untuk relokasi sendiri berbeda dengan pembekalan keahlian tadi. Terlepas dari betapa baik tujuan relokasi tersebut, tanpa dibarengi strategi komunikasi yang benar, sulit bagi pengungsi memahami dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Terlebih jika terdapat riwayat keluarga yang panjang dan mengharukan di kaki Gunung Sinabung.
Satu slogan yang diusung sebuah perusahaan asuransi, yakni “Selalu Mendengarkan, Selalu Memahami”, baik untuk dilakukan untuk menyampaikan ihwal relokasi. Untuk ini sebenarnya membutuhkan waktu cukup lama dan kesabaran juga. Walaupun tak layak menjadi perbandingan dengan kasus Sinabung. Kiat Jokowi, semasa Walikota Solo, merangkul para Pedagang Kaki Lima tak berlangsung dalam kejapan mata saja. Sebagaimana kebiasaan budaya Timur, Jokowi mendengarkan pihak ke dua ialah setelah bersama-sama mengganjal perut terlebih dahulu.
Strategi yang unik berlaku ketika menyampaikan pesan kepada para pengungsi atau masyarakat yang disasar. Hendaknya tidak mengulang guyon tentang seorang pakar membawakan presentasi digital canggih ke daerah pelosok yang belum terjamah daya listrik. Hanya menimbulkan canggung dan sekat-sekat. Karenanya perlu memahami media komunikasi yang dekat dengan mereka. Terutama yang lekas diserap serta lama diingat. Dalam khasanah budaya masyarakat (secara khusus) pengungsi Sinabung, pentas seni dan lagu daerah merupakan pendekatan lebih membumi. Informasi atau pesan penting tersebut didesain untuk melebur dalam media komunikasi daerah tadi.
Dialog dengan Sinabung dirintis dengan baik melalui terobosan pembekalan keahlian. Tetapi fokus untuk pendampingan para pengungsi belum henti di sini saja. Isu-isu kepentingan sosial lainnya juga membutuhkan perhatian untuk merawat ruang dialog tersebut. Setidaknya kita tidak berkutat pada ‘lingkaran setan’ yang sengaja diciptakan untuk kepentingan sepihak. Terobosan tersebut telah diretas. Hasil baiknya, strategi komunikasi akan dikerubungi agenda bakti sosial lainnya untuk pengungsi Sinabung: pendidikan, kesehatan, jaminan sosial, bahkan bilik asmara (Selesai).
* Ananta Bangun adalah pewarta di Majalah Menjemaat - Komsos Keuskupan Agung Medan)
Artikel ini disajikan sebagai informasi umum. Sorasirulo tidak bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil berdasarkan konten ini. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi.