Merawat Dialog Sinabung (bagian
Oleh: Ananta Bangun (Medan) Mendengarkan dan memahami Sinabung Sebagaimana kisah dalam film heroik. Tidak melulu keburukan muncul dalam upaya bantuan bencana…
Satu slogan yang diusung sebuah perusahaan asuransi, yakni "Selalu Mendengarkan, Selalu Memahami", baik untuk dilakukan untuk menyampaikan ihwal relokasi. Untuk ini sebenarnya membutuhkan waktu cukup lama dan kesabaran juga. Walaupun tak layak menjadi perbandingan dengan kasus Sinabung. Kiat Jokowi, semasa Walikota Solo, merangkul para Pedagang Kaki Lima tak berlangsung dalam kejapan mata saja. Sebagaimana kebiasaan budaya Timur, Jokowi mendengarkan pihak ke dua ialah setelah bersama-sama mengganjal perut terlebih dahulu.
Strategi yang unik berlaku ketika menyampaikan pesan kepada para pengungsi atau masyarakat yang disasar. Hendaknya tidak mengulang guyon tentang seorang pakar membawakan presentasi digital canggih ke daerah pelosok yang belum terjamah daya listrik. Hanya menimbulkan canggung dan sekat-sekat. Karenanya perlu memahami media komunikasi yang dekat dengan mereka. Terutama yang lekas diserap serta lama diingat. Dalam khasanah budaya masyarakat (secara khusus) pengungsi Sinabung, pentas seni dan lagu daerah merupakan pendekatan lebih membumi. Informasi atau pesan penting tersebut didesain untuk melebur dalam media komunikasi daerah tadi.
* Ananta Bangun adalah pewarta di Majalah Menjemaat - Komsos Keuskupan Agung Medan)