Sekilas Tentang Deleng — Sorasirulo
← Beranda

Sekilas Tentang Deleng

Oleh: Juara R. Ginting Deleng Sibuaten adalah gunung tertinggi di Sumatera Utara. Gunung ini tidak dikategorikan sebagai gunung api, seperti halnya Gunung Si…

Sekilas Tentang Deleng
Oleh: Juara R. Ginting Deleng Sibuaten adalah gunung tertinggi di Sumatera Utara. Gunung ini tidak dikategorikan sebagai gunung api, seperti halnya Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak yang juga berada di Kabupaten Karo. Keberadaan Deleng Sibuaten dalam kebudayaan Karo erat kaitannya dengan kisah Rumah Sipitu Ruang di Ajinembah sehingga gunung ini dianggap sangat sakral oleh masyarakat Karo. Sibuaten terletak di perbatasan Kabupaten Karo dengan Kabupaten Dairi[/caption]

J. Tideman (1922) dalam bukunya berjudul SIMELOENGOEN (halaman 68) menulis: “… Penduduk Raya Tongah, Raya Bayu dan Raya Usang adalah keturunan Tuan Raja Tongah yang merupakan marga Saragih Sumbayak sedangkan penduduk Buluh Raya adalah dari marga Saragih Garingging yang merupakan keturunan dari Si Piningsori (versi Karo: Raja Sori). Adapun pemimpin Raya sekarang ini (pada tahun 1922), Tuan Kapoltakan, membantah marganya berasal dari Samosir. Dia mengatakan nenek moyangnya berasal dari Adjinembah (Karolanden) yang artinya Radja Nisombah …”

Dalam kisah Rumah Sipitu Ruang, Siraja Sori hendak membunuh ayahnya Sibayak Ajinembah karena sudah mengorbankan salah satu dari sepasang Kerbo Nanggalutu kepada tamu saat mengket Rumah Sipitu Ruang. Ketika ayahnya itu hendak mengorbankan Kerbo Nanggulutu yang satunya lagi, dia berencana membunuh ayahnya, tapi dihalangi oleh ibunya yang beru Purba. Palas Rumah Sipitu Ruang yang sudah dipugar oleh pemerintah di Desa Ajinembah (Kabupaten Karo) (Foto: Mecu Ginting)[/caption]

Ibunya mengirimnya kepada mamana Raja Purba. Singkat cerita, dia dijadikan Raja di Raya (mamana turang nandena ini tidak punya putra). Kerbo Nanggalutu berasal dari Bambil (dekat Kutacane). Menurut cerita pengulu Lauriman (panteken Munte) bersama pengulu-pengulu kuta-kuta panteken Munte dari Kabupaten Karo dulunya pernah berkonvoi jalan kaki ke Merek. Dari arah berlawanan datang pula serombongan pengulu-pengulu huta panteken Saragih dari Raya ke Merek. Mereka bertemu di Merek dan bersama-sama menanam 7 batang jeruk di salah satu tempat di sana pertanda mereka mengenali kembali kesatuan mereka SADA BAPA, yaitu Sibayak Ajinembah.