Warga Berastepu Dan Gurukinayan Setelah — Sorasirulo
← Beranda

Warga Berastepu Dan Gurukinayan Setelah

Oleh: Petrus Sitepu (Kabanjahe) Entah apa yang menggerakkan, sore ini , kuputuskan berangkat mengunjungi teman-teman ex-Pengungsi Erupsi Gunung Sinabung. Sej…

Warga Berastepu Dan Gurukinayan Setelah

Sekitar 400 meter dari simpang kearah Gurukinayan, sebanyak 14 Keluarga membangun tempat tinggal di sebelah kanan jalan. Kami berhenti (kebetulan penghuni di sini semuanya penduduk Desa Gurukinayan) langsung menyapa.

“Ke mana kam, Pak Tepu?”

“Njumpai kena. Enggo tedeh ateku,” kujawab dengan perasaan gak karuan melihat kondisi mereka.

Kami duduk di halaman (karena memang tidak ada tempat lain). Cerita duka masih berlanjut. Seorang ibu berkata:

"Bngenda me kondisi kami, Pak. Idahndu min ingan kami tading enda.” Gubuk 3 x 4 m. Dinding tepas, atap sebagian seng, sebagian tenda plastik, diisi oleh 1 keluarga (4 orang). Dapur dan balai tempat tidur menjadi satu.

"Rusur kal kami ngandung berngi e, Pak. Apaika naatap beberéndu ah si sangana sekolah denga lanai kal ia banci erlajar. Tuhu lit nge listrik Genset 3 jam sada berngi. Jam 7 - 10. Berngi e rusur kal kubegi anakta, beberéndu ah, ngandung. Aminna gia itahan-tahanna maka gelah ula kal begi nandé ras bapa é aténa. Bage gia, me me begi kami nge.”

Anaknya itu, Adelina br Sembiring, murid kelas 3 SMPN Payung.

Aku tidak bisa berkata apa. Hampir di semua tempat kondisinya seperti ini. Aku sempat berbicara dengan Adelina dan Rima. Keduanya siswa SMP Kelas 3. Semangat masih tergambar di tatapan matanya. Meskipun mereka tersenyum. Aku tahu itu hanya seyum yang dibuat-buat untuk menyembunyikan kegalauan hati mereka.

“Tutus aténdu erlajar, beberé. Lit nge pagi jorena,” hanya itu kata-kata yang terlontar dariku. Entah mengapa, aku tiba-tiba kehilangan kata.

Kutambahkan: “Adi SMA pagi, adi nggit kam, i rumahta saja kam tading. Usahaken kami pagi biayana. Enterem nge kade-kadenta.”

“Ué, pak Bujur kal,” katanya sambil matanya berkaca-kace.

Kebetulan aku tidak membawa uang banyak, tapi apa adanya kuberikan sama mereka berdua.

“Enda sitik penukur buku kena, ya. Minggu si reh, reh ka aku ras mamindu.”

“Ué, Pak. Aku ku rumah lebe erdakan,” sambil membawa periuk untuk menanak nasi.

Kusempatkan masuk ke rumah nya. Dan, matakupun ikut berkaca-kaca.

Maaf saudaraku. Aku tidak lanjutkan cerita ini karena hanya akan menambah kesedihan di dalam mobil sewaktu pulang. Aku hanya terdiam, sambil berfikir, apakah aku sudah memberikan setetes air pada orang yang kehausan? Apakah aku sudah melakukan walaupun sedikit saja? Apa sudah sesuai dengan yang diajarkan agamaku (aku beragama Katholik) atau aku memang berdoa hanya sebatas rutinitas saja?

Tapi, akhirnya aku menyadari, Tuhan memberikan aku pengalaman yang menyadarkan aku. // //