← Beranda Budaya & Adat · Pendidikan · Rab, 7 Okt · 2 mnt baca
Bakat Catur Karo Terus Joy Suranta Tarigan (Depok) Saat arisan kelompok merga Tarigan dan beru Tarigan di Pekan Cisalak, si putra sulung menghampiri ayahnya dan berkata: “Pak, mint…
Dulu, semasih anak-anak, aku sering disuruh ibu memanggil ayah ke warung (kami sebut kede kopi dalam bahasa Karo) untuk mengajak ayah makan bersama. Seringkali aku telah lama berdiri di sebelah ayah dan ayah tidak menoleh sama sekali karena asyik bermain catur dengan temannya. Mereka bagaikan telah masuk ke dalam dunia lain meski tubuh mereka ada di sekitar kita. Apalagi, sebagaimana umumnya laki-laki bermain catur, mereka berpikir sambil bernyanyi atau saling jawab mengikuti “kisah” permainan catur mereka.
Ayahku memang terkenal sebagai salah seorang pemain catur handal di Kabanjahe. Tapi, tak ada satupun kami anak-anaknya yang mengikuti jejaknya. Kini, setelah dewasa dan punya anak-anak, tinggal di Pulau Jawa, dunia ayah kembali muncul di depan mata. Bakat keluarga ternyata menurun ke sang putra sulung.
Bakat Karo sejak jaman pre kolonial, kolonial hingga ke generasi Cerdas Barus, Nasib Ginting dan Monang Sinulingga (ketiganya pernah menjadi pecatur andalan Indonesia di dunia internasional bersama Edhie Handoko, Utut Hadianto, dan Ardiansyah) tampaknya terus menggeliat di darah anak-anak Karo sampai masa kini dan di mana saja. // //
Artikel ini disajikan sebagai informasi umum. Sorasirulo tidak bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil berdasarkan konten ini. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi.