Banjir Bandang Memporakporandakan — Sorasirulo
← Beranda

Banjir Bandang Memporakporandakan

Laporan: Mulia Sembiring Beberapa minggu terakhir ini Desa Kidupen (Kecamatan Juhar) dan hampir seluruh Dataran Tinggi Karo (Karo Gugung) hampir tidak turun …

Banjir Bandang Memporakporandakan

Mugkin saja warga desa baru mengetahui di pagi hari, di saat mereka terbangun atau berencana berangkat ke lading. Betapa kagetnya mereka melihat bekas banjir. Datangnya seperti pencuri di saat warga terlelap.

Banjir bandang beberapa kali telah menimpa Desa Kidupen. Beberapa tahun lalu juga pernah melanda. Tapi sepertinya banjir kali ini lebih parah dan mungkin terparah yang pernah diketahui generasi muda asal Kidupen.

Banjir bandang ini meluluh lantahkan ± 200 Ha lahan pertanian seperti tanaman padi, jagung, Coklat(Cacao), pisang dan palawija lainnya. Bahkan diperkirakan budidaya ikan di lahan-lahan tambak (paya ) warga di pinggiran DAS Lau Jandi ini semua terhanyut mengikuti aliran sungai. Itu terlihat di esok harinya.

Warga Kidupen banyak mendapatkan berbagai jenis ikan seperti ikan mas, gabus (nurung mbentar ), kaperas, lele, nila, dll, dan juga ikan moa (dong-dong). Di tengah kesedihan, mereka sedikit terhibur dengan adanya sedikit berkah di balik bencana.

Sehari itu, warga yang terkena bencana disibukkan dengan mencari ikan, mengambil dan memanfaatkan gelondong kayu menjadi kayu bakar, atau menyelamatkan hasil pertanian yang tersisa.

Seperti diceritakan oleh nande kami beru Ginting by phone, rata-rata warga bisa mendapatkan tangkapan ikan sangat berlimpah dan memasaknya di rumah masing-masing. Walaupun di balik itu orangtua saya merasa sedih karena lahan pertaniannya yang ditanami jagung, pisang berangan dan cokelat sudah hanyut dan sebagian terkubur oleh lumpur bawaan banjir.

Mungkin perasaan ini dapat dirasakan oleh semua warga yang terkena bencana. Warga Desa Kidupen ini sangat berharap bantuan dari pemerintah. Kerugiannya sangat besar. Apalagi mata pencaharian mereka tergantung di lahan pertanian ini.

Tidak itu saja, beberapa proyek pengairan pemerintah dan masyarakat setempat semua rusak. Demikian juga halnya dengan lokasi pemandian Namokarang yang selama ini jadi tempat kunjungan wisata idola bagi penduduk sekitar telah rusak parah; baik lahan maupun fasilitasnya.

Keindahan alam yang begitu mempesona selama ini terasa sulit untuk memulihkannya. Mungkin puluhan tahun ke depan baru dapat pulih. Itu pun dengan syarat seluruh warga mulai dari hulu hingga hilir harus menjaga keseimbangan lingkungan. Tapi, beberapa tokoh masyarakat baik di Kidupen maupun di perantauan tetap memberikan semangat dan rasa optimis kepada warga setempat untuk memulihkan keindahan alam seperti semula. Baik dengan menghubungi langsung atau melalui media soial facebook, dll. Kidupen sebagaimana terlihat dari satelit beberapa hari sebelum banjir bandang kemarin[/caption]

Terimakasih kepada bapak Ngaloken Gintings, Samudera Tarigan, Lawit Ginting, Dian Ginting, Mestiawan Meliala, Cornelius Ginting, Merlana br Kacaribu, Ayu Munthe, Rinawati br Tarigan dan teman-teman yang lain yang tidak disebut satu per satu, yang telah meluangkan waktunya untuk bersama-sama memberikan rasa peduli akan kampung halamannya Desa Kidupen yang tercinta. Terutama saudara Cornelius Onel Ginting Munte yang sudah meliput dan memberikan info tentang situasi terkini di Desa Kidupen terutama pasca banjir bandang yang datang kembali ini.

Semoga Tuhan memberi ketabahan untuk semua saudara-saudara kita yang kena bencana ini dan kita semua diberikan kesehatan dariNya. // //