Ikan Jurung Dalam Tradisi Suku — Sorasirulo
← Beranda

Ikan Jurung Dalam Tradisi Suku

Oleh: Frans Purba Di Karo Gugung (Dataran Tinggi Karo), ikan jurung merupakan ikan purba yang diyakini umurnya sudah ribuan tahun. Namun, belakangan, ikan in…

Ikan Jurung Dalam Tradisi Suku

Hajatan-hajatan tertentu yang sangat penting dalam tata budaya Karo memang umumnya dilakukan setelah selesai panen. Akan halnya suatu hajatan ritual yang harus memakai ikan jurung misalnya mohon doa restu kepada kalimbubu (keluarga pemberi dara/ bride giver) agar sepasang pengantin muda cepat mendapatkan momongan. Kalimbubu harus menyediakan ikan jurung untuk diserahkan dan didoarestukan kepada sang putri dengan suaminya agar cepat dikaruniai anak. Foto: DARUL KAMAL LINGGA GAYO[/caption] Di dalam ingatan saya dari masa lalu, maka kalimbubu mempersiapkan alat kawil (pancing) dengan umpannya yang terbuat dari jagung muda diolah dan diramu sedemikian rupa (harus dalam keadaan bersih 100 persen). Kalimbubu disarankan untuk tidak merokok terlebihdahulu agar menjamin kebersihan umpan. Selama 3 hari sebelum hari H, kalimbubu harus puasa menurut tata budaya Karo dan tak boleh berucap kata-kata tak senonoh serta tak boleh berhubungan sex. Mohon doa kepada puang kalimbubu (bride giver of bride giver) agar mensupport niat yang suci ini.

Pada hari H, pergilah memeancing misalnya ke Lau Dah. Maka dibacakanlah doa-doa dan mantera-mantera yang kira-kira isinya sebagai berikut:

Kam Dibata i Dates

Kam Dibata si Tengah

Kam Dibata si Teruh

Kundul kam kerina man simehamat notokan aku ngkawil nurung perban lit sura simejilei bas anak kami … dst.

Memang ikan seperti dihibahkan oleh Dibata (Tuhan) dan dapat untuk Hari H yang dijanjikan. Lalu, digulai dengan cara masakan Karo untuk disuguhkan kepada puteri tersayang.

Ini hanya catatan kaki penegas betapa kita lebih bodoh dari keledai. // //