Kecelakaan
Oleh: Bintara Silangit (Medan ) Belum lama ini aku mengalami sebuah kecelakaan yang memilukan sekaligus juga memalukan. Sekitar jam 11 malam, 16 Januari 2015…
Setelah lukaku dirawat, aku diantarkan pulang oleh seorang teman yang kusuruh datang menjemputku di klinik tersebut. Dalam perjalanan pulang, aku sekilas melihat ke arah lubang yang mencelakaiku tadi. Rupanya sudah ada penanda yang bertuliskan “Awas Ada Lubang”. Dalam hati aku menggerutu: “Mengapa harus diberi tanda sesudah aku kecelakaan?”
Aku berusaha menanggapi hal itu secara positif, mudah-mudahan aku korban terakhir. Seminggu aku libur. Setelah kembali masuk kerja, teman-temanku menanyakan lokasi kejadian tersebut. Kata mereka tidak ada lubang sepanjang jalan tersebut. Salah satu rekan kerjaku melintasi jalan tersebut setiap kali ke kantor. Dia sudah memeriksa lokasi yang aku ceritakan, dan memang sudah tidak ada lagi lubang tersebut. Ya, aku sedikit agak kesal, karena ada kesan bahwa mereka seolah tidak percaya aku terjatuh di jalan tersebut.
Aku kemudian teringat akan perkataan seorang pemuda yang membawaku ke klinik itu.
“Nanti biar kusuruh Sianu (aku lupa nama yang disebutkan) untuk menutup lubang itu, udah banyak kali kejadian di situ,” katanya.
Hampir di setiap daerah di Indonesia ini kejadian seperti itu sering terulang: “Memperbaiki jalan sesudah ada korban.” Pesanku, buat siapa saja yang membaca cerita ini, pakailah pelindung tubuh yang aman dalam berkendaraan, terutama helm dan sepatu. Kalau saja aku memakai sepatu ketika itu, aku pasti tidak libur sampai seminggu, karena luka terparah yang kualami adalah daerah yang sebenarnya dilindungi oleh sepatu, sama sekali tidak ada luka di bagian lain.
Medan, 28 Januari 2015. // //