← Beranda Budaya & Adat · Kolom · Sab, 19 Sep · 3 mnt baca
Kolom Joni H. Tarigan: Bahasa Beberapa keluarga protes kepada kami (saya dan istri) ketika berada di kampung (Dataran Tinggi Karo). Protes itu karena kami berbicara bahasa Indonesia kepad…
Dari sisi pemahaman bahasa, seorang anak memahami arti dengan melihat atau mengalami kejadian. Maka jika langsung kami terapkan bahasa Karo untuk kami apa salahnya? Tentu tidak ada salahnya, dan kami yakin anak kami akan dengan cepat memahami bahasa Karo. Tetapi kami tetap belum berbahasa Karo terhadap anak kami.
Bagi kami, yang tinggal di Kabupaten Bandung, anak ini akan berinteraksi di luar rumah bukan dengan orang Karo. Kami membayangkan bagaimana ia akan terbeban dengan kebingungan karena apa yang diucapkan orang lain tidak mengerti dan juga orang lain yang berbicara tidak dimengerti anak kami.
Saat ini, yang menjadi fokus kami adalah bagaimana anak kami bisa terlatih berpikir kritis dan kreatif. Itu bisa terwujud jika media komunikasi (bahasa) itu adalah bahasa yang ia mengerti di rumah dan juga di mengerti orang lain di luar rumah. Bagi kami, menumbuhkan pemahaman anak itulah yang paling utama bukan jenis bahasa apa yang utama. Karena kami di lingkungan yang kebanyakan orang berbahasa Indonesia, dengan bahasa itulah kami didik anak ini. Ketika kemudian si anak sudah bisa memahami kehidupannya, barulah kemudian akan kami tambahkan bahasa-bahasa lain untuk ia ketahui. Karena kami orang Karo, sudah tentu bahasa karo akan kami ajari. Kami (saya dan istri) kebanyakan berbahasa Karo dan juga Indonesia. Kadang anak kami mendengarkan kami berbahasa Karo, sehingga saat ini anak kami sudah mengerti “ue = ya; enggo = sudah; anjar-anjar = pelan-pelan). Pada umur 2 tahun 2 bulan, anak kami sudah bisa berbicara bahasa Indonesia dan menunjukkan karakter yang kritis dan kreatif.
Untuk pertumbuhan anak-anak kita, sebagai orang Karo, bukan masalah cinta atau tidak sama kekaroan kita. Kita harus melihat di mana lingkungan kita. Kita harus bertanggungjawab agar anak kita menerima haknya mampu berpikir kreatif dan kritis. Sama halnya dengan orangtua yang ingin anaknya pintar berbahasa Inggris, sejak bayi disuguhi yang English English segala. Begitu bermain dengan anak-anak tetangga, anak kita pun ditinggal anak tetangga karena bahasa yang tidak dimengerti temannya. Terutama bagi kita Karo yang dirantau, bahasa pengantar untuk anak kita sudah tentu harus dengan bahasa lingkungan kita.
Sekali lagi bukan masalah cinta atau tidak sama Karo, tetapi kita harus mengantarkan anak kita memahami lingkungannya. Kelak bahasa Karo dan bahasa lain itu tidak terlambat untuk kita ajarkan.
Salam semangat dan perjuangan. // //
Artikel ini disajikan sebagai informasi umum. Sorasirulo tidak bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil berdasarkan konten ini. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi.