Soal Letkol Untung ’diangkat’ jadi pemimpin Revolusi, secara logika memang tak masuk akal, karena dia tak punya pasukan yang berarti dan juga tak mungkin men…
Soal Letkol Untung ’diangkat’ jadi pemimpin Revolusi, secara logika memang tak masuk akal, karena dia tak punya pasukan yang berarti dan juga tak mungkin menggerakkan pasukan lain. ”Benar kah dia hanya diperalat?” (merdeka.com).
Siapa yang memperalat siapa? Itulah yang selalu terjadi atau lebih tepatnya hanya itulah yang terjadi dalam setiap manuver politik di negeri berkembang pada abad dua blok dunia, Blok Barat dan Blok Timur.
Negeri-negeri berkembang dan terutama pemimpinnya selalu diperalat. Soal ini sangat jelas misalnya dalam pergantian presiden Vietnam Selatan ketika itu. Pada akhir-akhir keruntuhannya hampir tiap bulan diganti presidennya. Terus terang saja disingkirkan yang tidak disukai oleh majikannya (USA).
Yang selalu terjadi ialah alat yang paling tinggi ini sering juga lebih selamat. Seperti Soeharto sendiri, dia selamat sampai 30 tahun. Berlainan halnya dengan Vietnam Selatan itu, karena di sini terjadi perlawanan gesit dari pihak lawan sehingga siapapun jadi presidennya, nasibnya semakin buruk. Sekiranya di Indonesia ada perlawanan serius dari musuhnya tentu bisa juga hanya beberapa bulan saja sudah harus diganti lagi presidennya.
Selain itu ada perbedaan lain dengan Indonesia, karena di Indonesia tujuan majikan yang utama ialah SDAnya, sedangkan di Vietnam tujuan utama ialah membendung Komunisme dari Utara. Di Indonesia semakin dikeruk SDAnya semakin makmur kelihatannya, hanya kelihatannya.