Kolom M.u. Ginting: Berkembang Ke
Diskusi dan musyawarah soal Dana Aspirasi di DPR beralih ke pengambilan keputusan menurut ’demokrasi liberal Barat’. Mayoritas jadi pemenang. Kasihan melihat…
Dengan begitu, parlamen KMP yang bagikan duitnya, mereka jugalah yang mengawasi. Ini dia perkembangan baru parlamen KMP, hahaha . . . berkembang ke belakang, duit, duit, duitlah raja . . . karena duit agamanya atau politiknya jadi sama.
DPR KMP bakal jadi kepala proyek di daerahnya, sebagai hasil pungutan suara demokrasi liberal Barat itu, kemenangan mayoritas karena bakal dapat duit Rp. 20 M. Lumayan jugalah jumlah ini. Seorang DPR KMP berwenang sepenuhnya dalam penggunaannya. Dikontrol sendiri karena diri sendiri juga adalah anggota DPR.
Inilah enaknya demokrasi liberal Barat itu. Benar atau tidak, adil atau tidak, tetapi menang karena suara terbanyak, dan dapat pembagian Rp. 20 M tiap anggota DPR. Ini juga tentu bisa jadi salah satu bukti bagi kita bahwa demokrasi liberal Barat itu memang tak cocok dengan demokrasi ’kearifan lokal’ bangsa kita.
Parlamen KMP ini patuh sama demokrasi Barat, jika bisa bikin menang karenanya. Tetapi, bahwa demokrasi Barat itu prinsip dasarnya yang lain ialah sebagai legislatif dan pengontrol kekuasaan, bukan sebagai pejabat pembagi uang bikin proyek pembangunan di daerah, ini tak dihiraukan oleh DPR KMP. Jadi KMP pakai demokrasi Barat hanya di bagian yang menguntungkan mereka saja, seperti kalau dapat pembagian uang Rp. 20 M. Sanggar Seni Sirulo dalam sebuah penampilannya di Medan[/caption]