Kolom M.u. Ginting: Dzulmi Eldin Dan — Sorasirulo
← Beranda

Kolom M.u. Ginting: Dzulmi Eldin Dan

Sikap dan pernyataan yang dibikin Dzulmi Eldin dalam menghadap HMKI sebagai perwakilan resmi kultur/ Suku Karo adalah sikap nyata 'saling menghomati dan sali…

Karena suku/ kultur berbeda-beda maka juga dalam kenyataan ada ‘ethnic competion’ yang pada abad lalu telah bikin perang entis yang makan korban jutaan, dan juga masih ada terjadi sekarang. Perang etnis ini sangat keji dan tak berperikemanusiaan, juga terjadi di Indonesia, bikin penderitaan dan bikin korban jiwa tak sedikit.

Kalau ekonomi berfungsi sebagai dasar perubahan kesedaran manusia maka perang mempercepat perubahan itu. Ini sudah terbukti dari pelajaran dan kesimpulan perang etnis abad 20. Berapa banyak kesimpulan dan pembelajaran yang telah dibukukan oleh ahli-ahli dunia, dan berapa banyak kesimpulan praktis dan benar yang sudah ditrapkan dalam kenyataan seperti di atas (HMKI dan Walikota Medan).

Ethnic competition masih akan berlangsung dalam jangka panjang ke depan, ratusan atau ribuan tahun lagi. Bukti ada, selama 3.000 tahun peradaban manusia, abad lalu pernyataan kompetisi itu dinyatakan dalam perang etnis yang tak berperikemanusiaan dan makan korban banyak. Tetapi jelas terlihat dalam kenyataan ada perubahan fundamental kesedaran dan pengertian manusia yang berbeda suku dan kultur.

Harapan yang menentukan ialah adanya universalisme dalam setiap kultur, walaupun tingkat keuniversalannya berbeda dalam tiap kultur. Hilangnya perbedaan keuniversalan ini adalah permulaan hilangnya ’ethnic competion’, kontradiksi berubah kwalitasnya. Universalisme kultur dan budaya Karo adalah salah satu yang menonjol dalam kehidupan Karo, terlihat dalam watak kejujuran dan keikhlasannya dalam praktek kehidupan sehari-hari, dan juga secara tradisional yang sudah melekat dalam jiwa tiap orang Karo sejak ribuan tahun. Ini didasari oleh filsafat hidupnya yang menggambarkan ciri kemanusiaan yang sangat mendalam; yaitu ‘sikuningen radu megersing, siagengen radu mbiring ’ serta dialektika pikirannya yang sangat tinggi ‘seh sura-sura tangkel sinanggel ’. // //