Kualanamu Masih Perlu — Sorasirulo
← Beranda

Kualanamu Masih Perlu

Oleh: Antonius Bangun Kembali ke Jakarta dari Medan melalui Bandar Udara (Bandara) Kualanamu. Untuk mencapai Kualanamu, sekarang, sudah bisa memakai kereta a…

Kualanamu Masih Perlu

Kekurangan kereta api hanya di harga tiket yang mahal. Karena harga tiket mahal, kereta api sering kurang penumpang. Pengamatan kasat mata, penumpang kereta api hanya sekitar 1/3; 2/3 kursi, kosong. Kalau saya yang punya kereta api, tiket akan saya tetapkan Rp. 60 ribu saja agar penumpang 2 orang pun masih mau naik kereta api. Dengan harga semurah ini diharapkan penumpang akan penuh. Kereta api lebih untung. //

Kualanamu Bandara Internasional, melayani penerbangan manca negara. Tamu yang datang dari LN ke Sumatera Utara (Sumut) sebagian besar melalui Bandara Kualanamu. Wajah Sumut akan tercermin dari penampilan Bandara Kualanamu. Kalau bandara jelek tamu akan men-judge Sumut sama dengan bandaranya. Saya sebagai penumpang domestik pun merasakan bandara Kualanamu masih perlu berbenah. Kebetulan sejak hari pertama bandara dioperasikan saya sudah terbang dari Kualanamu. Dari sejak awal bandara ini kurang baik, terutama kebersihan. Awalnya saya toleransi, karena manajemen baru, masih bisa saya terima. Tapi sekarang setelah beroperasi bertahun-tahun, kebersihan masih belum baik. Lantai yang terbuat dari bahan mewah, mungkin granit atau marmer, tidak mengkilap bahkan kotor. Toilet lebih parah lagi, kotor dan bau tak sedap. Bahkah hari ini saya dapati lantai closet banjir, seperti ada orang mandi di dalam. Wah ini mestinya tidak terjadi. Di banyak bandara internasional memang disediakan tempat mandi tapi bukan di closet. Kalau di bandara ini ada kebutuhan mandi hendaknya pihak Angkasa Pura menyediakannya.

Yang utama jadi sorotan saya hari ini adalah soal akses masuk ke ruang tunggu. Rupanya ada perubahan prosedur. Dulu setelah check in, dengan boarding pass kita bisa langsung ke lobby di lantai dasar. Di sana ada lounge, toko dan cafe. Jadi sebelum masuk ke ruang tunggu kita bisa belanja atau duduk di lounge. Nanti kalau sudah ada panggilan boarding baru kita masuk ke ruang tunggu melalui prosedur pemeriksaan identitas dan scanning.

Dengan perubahan baru sekarang, setelah check in, kita masuk ke ruang tunggu yang sudah bergabung dengan lounge, toko dan cafe. Jadi untuk menuju pesawat tidak ada lagi scanning, langsung saja masuk. Yang jadi persoalan adalah ketika kita mau masuk ke ruang tunggu atau lounge ada antrian panjang karena di ujungnya hanya ada seorang petugas. Pada hal di sana ada 4 scanner yang siap melayani pemeriksaan barang.

Karena di depan hanya ada seorang petugas pemeriksa boarding pass dan identitas maka terjadi antrian panjang, sementara peralatan scanning kosong. Mestinya ada empat orang juga di ujung antrian supaya seimbang dengan jumlah scanner. Ini sebenarnya mudah sekali tetapi kenapa dibiarkan? Apakah masih berlaku kata "kalau bisa dibuat sulit, kenapa dibuat mudah?"

Jangan ketinggalan jaman. Revolusi mental, bung....

Kualanamu, 16 November 2015 //