Lembah, Perantau Dan Pengungsi — Sorasirulo
← Beranda

Lembah, Perantau Dan Pengungsi

RIKWAN SINULINGGA, BERASTAGI. Kebanyakan penduduk asli Taneh Karo menganggap lembah (baluren) tidak berharga untuk dikelola. Kita bisa lihat di banyak desa K…

Lembah, Perantau Dan Pengungsi
RIKWAN SINULINGGA, BERASTAGI. Kebanyakan penduduk asli Taneh Karo menganggap lembah (baluren) tidak berharga untuk dikelola. Kita bisa lihat di banyak desa Karo dimana lembah-lembah dibiarkan menjadi lahan tidur yang tidak terkelola. Mungkin karena masih cukup lahan datar yang yang tersedia. Lain halnya dengan para perantau di Kota Berastagi. Mereka mengubah lahan tidur ini menjadi lahan yang sangat produktif yang cukup untuk menghidupi keluarganya bahkan bisa membeli tanah untuk investasi mereka ke depan.

Bahkan, di beberapa lembah dekat Kota Berastagi menjadi areal pemukiman padat penduduk seperti Lembah Katisan, Lembah Kemakmuran dan lain-lain.

“Inilah perjuangan hidup,” cerita Pak Aritonang.

Pak Aritonang adalah seorang Batak yang merantau ke Karo. Dia merupakan salah seorang pengelola lembah tidur di dekat Kota Berastagi menjadi lembah yang sangat produktif. “11 tahun yang lalu, lembah ini penuh dengan semak belukar. Tak ada nilai dan hanya dijadikan tempat pembuangan sampah oleh warga sekitar. Setelah luntang-lantung mencari pekerjaan sebagai buruh tani yang lama kelamaan agak sulit didapat, akhirnya saya berpikir bagaimana caranya agar punya lahan sendiri. Saya menanyakan kepada penduduk asli sekitar tempat kontrakan saya siapa pemilik lembah tersebut. Lalu saya minta ijin untuk mengelola kepada pemiliknya. Awalnya sempat ditertawakan. Mungkin karena dulu lahan pertanian yang datar masih luas. Masak mengelola jurang seperti ini,” kata Pak Aritonang kepada Sora Sirulo.