Memilih Secara — Sorasirulo
← Beranda

Memilih Secara

Oleh: R. K. Sembiring Meliala (Jakarta) Kenedy[/caption] Saya berpikir, mungkin ada baiknya kita belajar dari para pemimpin dunia sebelum menetapkan pilihan …

Ronald Reagan tercatat sebagai presiden terpilih paling tua dalam sejarah Amerika Serikat yang pada saat dilantik pertama kali telah berusia 70 tahun. Mampu terpilih 2 kali masa jabatan dan pada saat mengakhiri tugasnya menikmati popularitas 86% yang hanya bisa tertandingi oleh Franklin D. Roosevelt dan Bill Clinton. Berasal dari keluarga miskin dan harus bekerja keras sejak awal termasuk bekerja menggali parit untuk membiayai studinya.

Seorang lagi presiden Amerika Serikat yang berasal dari keluarga miskin ialah Abraham Lincoln. Abraham adalah seorang self educated (autodidak), masuk sekolah formal secara terputus-putus, keseluruhan waktu yang dipakai untuk sekolah hanya 12 bulan dan tidak pernah kuliah. Namun demikian, ia dengan belajar sendiri berhasil mendapat sertifikat sebagai seorang lawyer (pengacara). Reagen[/caption] Apa yang ingin saya katakan ialah bahwa seorang pemimpin sejak awal sudah menunjukkan kualitasnya. Sepanjang hidupnya sudah terlihat bahwa ia adalah seorang pejuang, selalu berada di barisan terdepan. Usia ternyata tidak “main”, kaya atau miskin tidak “main”. Bahkan pendidikan formal pun tidak “main”. Yang “main” adalah kualitas pribadi dan kepemimpinan. Maaf kalau saya katakan bahwa hidup kekeluargaan Kennedy maupun Sukarno tidak bisa dijadikan tauladan. Pemimpin yang bagaimana yang kita cari untuk Tanah Karo? Ialah pemimpin yang berani berada di garis terdepan memberantas korupsi, yang berada di baris terdepan memberantas judi dan HIC/ AIDS, yang punya keberanian dan kreatifitas mencari solusi bagi pemasaran komoditas pertanian, yang berani mencari solusi bagi kualitas pendidikan yang rendah, yang bisa mencari terobosan untuk memajukan turisme. Lincoln[/caption] Menurut ingatan saya ada sekitar 225.000 orang yang memiliki hak suara di Pilkada Karo. Katakanlah guna memastikan kemenangan seorang calon bupati yang punya dukungan modal berani membeli Rp 200.000/ suara. Maka, untuk meraih 100.000 suara, dia harus mengeluarkan Rp. 20 M. Hanya membeli suara, belum termasuk biaya politik lain-lain. Seluruhnya bisa mencapai Rp. 25 M. Dari mana uang itu dan bagaimana mengembalikannya? Kalau menjabat 5 tahun maka setiap tahun harus dikembalikan 5 M. Setiap bulan harus setor 466 juta rupiah. Per hari 13.888.888 rupiah. Dari mana dapat uang kalau bukan korupsi?

Jadi, janganlah kita mau membodohi diri dengan menjadi sumber korupsi itu sendiri yang justeru mau kita lenyapkan dari bumi Karo. Jangan pilih calon yang TSnya mengiming-imingi uang dan materi.

Harapan terletak pada kesadaran para pemilik suara terutama kalangan muda //