← Beranda Budaya & Adat · Sen, 3 Agu · 2 mnt baca
NULL Daud S. Sitepu (Papua) Mengapa tidak pernah berubah dan berhenti dari kegiatan yang memalukan ini? Sekolah-sekolah masih mengijinkannya dan tidak ada laranga…
Setuju saya seperti contoh kampus di luar negeri. Mereka membuat kegiatan pertandingan basket, arung jeram, orientasi kamus dengan membawa pembicara-pembicara hebat, pakar-pakar ekonomi, pakar TI misalnya atau juga lomba menulis karya ilmiah, dll. Banyak cara yang bisa dibuat.
Pengalaman saya saat penerimaan mahasiswa baru sangat tidak bagus. Misalnya, sudah pakai baju putih rapi, disuruh guling-guling 3 putaran di debu tanah, pakai topi serta bawa ember dan sapu lidi. Makan tempe dan tahu sepotong tempe untuk 10 orang gigit paling ujung. Hihiihiii ….. Belum lagi dapat bentakan dari senior dan dorong-dorongan. Bbanyak macamlah.
Apakah ada manfaatnya?
Selama kegiatannya baik, ada manfaatnya. Tetapi, jika sudah tiba pada kekerasan balas-balasan serta kekerassan fisik dan badut-badutan, pasti tidak bermanfaat lagi. Oleh karena itu, seyogyanya tidak ada lagi seperti ini, namun digantikan dengan hal-hal yang lebih terdidik. Terhormat dan bermartabat, sesuai dgn pendidikan itu sendiri mengajar siswa berfikir kritis dan beretika juga berwawasan yang lebih luas. Kekerasan tidak perlu diajarkan di kampus. Tidak diajari juga sudah tahu.
Kementerian Pendidikan, silahkan dilarang semua kegiatan itu untuk digantikan dengan model yang mendidik dan lebih ilmiah. // // ”); // ]]> // //
Artikel ini disajikan sebagai informasi umum. Sorasirulo tidak bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil berdasarkan konten ini. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi.