← Beranda Ekonomi · Rab, 18 Mar · 4 mnt baca
Penyegaran Ekonomi Oleh: Robinson G. Munthe (Jakarta) Robinson G. Munthe[/caption] Jika menyangkut ekonomi, faktanya adalah sekitar 60% peredaran uang RI ada di Jabodetabek (to…
Saya menggambarkan seperti di atas agar mudah dipahami oleh orang awam. Uang lecek yang banyak beredar di suatu tempat adalah indikasi bahwa tidak banyak uang baru dalam nominal tertentu beredar di daerah tersebut. Artinya, jumlah uang yang relat if tidak banyak beredar (berputar) di tangan banyak orang di suatu tempat tertentu dalam waktu lama.
Itulah sebabnya jika kita belanja di Jabodetabek (misalnya di Kodya Tangerang) dan belanja di luar Jawa (misalnya di Kabupaten Karo) kemungkinan besar uang leceknya lebih banyak di Kabupaten Karo karena peredaran uang di Kodya Tangerang jauh lebih besar daripada di Kabupaten Karo. Itu salah satu tanda (bukan satu-satunya) bahwa investasi di Tangerang jauh lebih besar daripada di Kabupaten Karo.
Mengapa investasi di Kodya Tangerang lebih besar dari Kabupaten Karo? Jawabannya bisa banyak karena faktor penyebabnya pun banyak. Yang ingin saya gambarkan dengan ilustrasi peredaran uang di atas adalah uang (dalam bentuk investasi proyek-proyek dan perdagangan) itu harus diperjuangkan oleh pemerintah setempat (Pemda dan DPRD) beserta masyarakatnya (pengusaha, petani, pekerja, parpol, LSM, dll) agar uang mengalir ke daerah tersebut. Menyusun RAPBD ada mekanis-menya [/one_fourth]
Ke mana diperjuangkan? Ke Pemerintah Pusat, pengusaha besar, investor, dll. yang terutama direkam atau dimuat dalam RAPBD. Menyusun RAPBD ada mekanismenya tersendiri.
Lakukan sesuai fungsi, peran dan profesi masing-masing. Kalau guru teruslah mengajar dengan baik, si permotor tetaplah layani trayek dan penumpang dengan baik. Kalau petani teruslah rajin bekerja mengurus sawah ladang dan kebunnya, karena itulah yang mereka ketahui dan jalankan bertahun-tahun.
Tapi, selama tidak ada nilai tambah dan cara baru dalam mengolah hasil pertaniannya, saya pesimis ekonomi petani Karo akan lebih baik.
Yang saya maksud nilai tambah dan cara baru adalah, misalnya, petani tomat memiliki ketrampilan lain untuk mengubah tomat menjadi saus, tomat kaleng siap ekspor, dll. (peran ini bisa juga dilakukan oleh koperasi, dll). uang coklat beli beras, tak ada investasi atau tabungan[/one_fourth]
Juga cara baru dalam menyiasati pola dan keragaman tanam sehingga hasilnya bersaing di pasar termasuk merubah pola perdagangan hasil pertanian. Janganlah, misalnya, seorang menanam coklat semuanya ikut menanam coklat, sementara yang nanam padi tidak lagi menanam sehingga Karo harus impor beras dari daerah lain. Akibatnya, uang coklat beli beras, tak ada investasi atau tabungan.
Dalam bercocoktanam petani kita di Karo sudah sangat ahli, namun pola perdaganganlah yang harus dirubah. Di manapun di dunia nasib petani akan terus terpuruk kalau nilai tambah dan pola dagang tidak memihak petani. Nah, di situlah para petani harus kompak dengan didukung Pemda.
Kalau soal uang merata di Jawa dan di Tanah Karo itu perjalanan yang akan sangat panjang, karena telah terjadi disparitas sejak zaman Suharto. Namun, saya lihat mulai ada kesadaran kelompok untuk ikut melobi Pemerintah Pusat untuk lebih perhatian ke Karo. Misalnya, seperti yang ditunjukkan oleh KBK ITB bersama Pemda Karo ke Departemen PU dan DPR.
Itu sekedar contoh dari berbagai contoh dan prakarsa lain. //
Artikel ini disajikan sebagai informasi umum. Sorasirulo tidak bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil berdasarkan konten ini. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi.