Rekonstruksi Mitos Siraja — Sorasirulo
← Beranda

Rekonstruksi Mitos Siraja

STEVEN AMOR TARIGAN. MEDAN. Prof. Dr. Bungaran Antonius Simanjuntak yang dikenal oleh para mahasiswanya dengan julukan BAS adalah salah satu diantara 3 naras…

Rekonstruksi Mitos Siraja

Menurutnya, dalam rangka penelusuran sejarah orang Batak khususnya orang Toba, selain telah memiliki mitos atau legenda yang dipercayai keturunan Batak Toba itu adalah bagian dari sejarah mereka. Namun, jika dikaji menurut nalar normal manusia, tidak mungkin dipercaya atas kebenaran mitologi tersebut, tapi yang perlu kita pikirkan apa yang melatarbelakangi nenek moyang melahirkan mitos yang sedemikian hebat.

Menurut penelusuran beliau, dari mana asal usul nenek moyang orang Batak, walau masih premature namun jalurnya sudah semakin konkrit dan dibutuhkan pembuktian arkeologi, diikuti rekonstruksi penelusuran dimulai dari Tanah Batak terus ke Asia Selatan, ke Tibet lalu ke negeri Tiongkok. bangsa Toba Tartar pernah menaklukkan tentara Cina

Masih menurut BAS dalam pemaparannya, beliau pernah membaca data dokumen, maka nenek moyang bangso Batak berhubungan dengan keberadaan dengan bangsa Toba Tartar di Asia Utara (Utara Tiongkok). Pada masanya, bangsa Toba Tartar pernah menaklukkan tentara Cina, dan untuk tanda perdamian Kaisar Cina Kao Tsu menghadiahkan putrinya sebagai isterinya kepada Panglima Tartar. Sejak saat itu, bangsa Toba Tartar banyak belajar terhadap bangsa Cina untuk hidup beradab dan tidak tinggal di tenda-tenda di padang gurun, menjarah, berperang dan selalu di atas kuda.

Bangsa berambut hitam, yang selalu naik kuda itulah sebenarnya yang menjadi bapaknya orang Batak secara geneologis, sementara putri Kaisar Cina Kao Tsu menjadi ibu moyangnya orang Batak. Untuk ini perlu pendalaman dengan riset yang terus menerus dengan metode pembacaan dokumen asal Cina, Mongol, Toba Tartar, Jepang, Tibet, Muangthai, dll. Metode penggalian arkeologi pun perlu dilakukan, baik di Tanah Batak, Asia Selatan, Tibet dan Tiongkok, terutama di sebelah Utara sekitar Kota Loyang di sebelah selatan Peking yang sekarang.

“Ada dugaan saya, di Loyang itulah bermukim pertama sekali leluhur orang Batak sesudah perkawinan dengan putri Cina dan Panglima Toba Tartar. Perlu pembuktian metodologi antropologi fisik, arkeologi, sastra dan cerita rakyat untuk keberhasilan menulis sejarah asal usul orang Batak terutama Toba,” tuturnya.

Selanjutnya, BAS menganjurkan untuk mengetahui sejarah Bangsa Batak secara lengkap, sebaiknya dilakukan penelitian dan penulisan sebagai rencana grand design sebagai berikut : 1. Penelitian tentang Perang Bangsa Tartar melawan Cina, pemberian upeti putri kaisar, 2. Perang Cina dan Tartar melawan Mongol, 3. Toba Tartar mengadopsi budaya dan karakter bangsa Cina, 4. Toba Tartar di Tibet, 5. Migrasi dari Tibet ke Selatan, 6. Burma Utara (Bangsa Karen), 7. Muangthai (Bangsa Kacin), 8. Migrasi dari Khmer ke Indo Cina terus menyeberang laut menuju Sumatera (Suku Komering), Sulawesi (Toraja), Taiwan, Philipina, Gayo, dan Danau Toba.

Di penghujung pemaparannya beliau mengatakan mitos bagi orang Batak adalah sangat fungsional dalam mendukung migrasi yang dilakukan nenek moyang dan untuk menyembunyikan diri, menghilangkan jejak dari musuhnya bangsa barbar dan Mongol, maka nenek moyang “mungkin” menciptakan mitos untuk melindungi diri dan menjaga keselamatan. Oleh karena itu, pendidikan sejarah dan antropologi sangat erat kaitannya satu sama lain terutama bagi ilmuan antropologi sangat membutuhkan pendekatan sejarah untuk mendukung penelitiannya.

“Sebaliknya, orang sejarah perlu meningkatkan kapasitas dan kualitas penelitian ilmu sosial untuk mendukung kegiatan yang sifatnya berbasis sejarah,” katanya mengakhiri. // //