Transportasi Medan--dataran Tinggi Karo Belum — Sorasirulo
← Beranda

Transportasi Medan--dataran Tinggi Karo Belum

Oleh: Salmen Sembiring (Berastagi) Tanpa menyebutkan nama armadanya, menurut saya ini adalah cerminan pelayanan bus umum kita. Kalaupun ada yang menyangkal d…

Transportasi Medan--dataran Tinggi Karo Belum

Belum berhenti di situ saja, kernet masih menawarkan tumpangan bagi siapa saja yang berdiri di pinggir jalan. Akhirnya, di Tongkeh seorang penumpang lelaki dinaikkan lagi. Dia berdiri di pintu tengah bus. Bagian tengah bus begitu padat, bahkan kaki saja tidak bisa bergerak. Akhirnya 2 pendaki minta diturunkan di Doulu karena merasa terlalu sempit. Namun, sepasang pendaki lain naik lagi dari Doulu, dan akhirnya turun juga di Penatapen.

Di Bandarbaru, seorang ayah dan anaknya dinaikkan lagi. Pintu tengah semakin padat. Tepatnya di depan gapura Bumper Pramuka. Sekitar sepuluh pendaki gunung dinaikkan ke atap bus. Tidak kurang 4 perempuan dari yang dinaikkan tersebut. Awalnya mereka tampak tidak ingin naik namun karena diberi informasi bahwa sulit mendapat bus di hari Minggu oleh kernet mereka naik juga. //

Mendekati Pancurbatu, ada beberapa penumpang yang turun. Penumpang yang di atap bus akhirnya semua disuruh masuk ke dalam bus dan berdiri di lorong antar bangku. Hal ini dikarenakan ada pos polisi di Pancurbatu yang sering melakukan sweeping penumpang di atap. Begitu lewat Pancurbatu, beberapa pendaki naik lagi ke atap bus sedang yang perempuan disuruh tetap berdiri di dalam.

Kesemua rangkaian ini adalah cermin pelayanan industri transportasi kita yang melemah. Reaksi penumpang turun sebelum tiba di tujuan merupakan bentuk kekecewaan yang mendalam. Hal yang sama terjadi 5 tahun lalu saat saya masih kuliah dan sampai hari ini belum banyak berubah. Pengusaha dan manajemen transportasi seharusnya melakukan transformasi dalam pelayanan ini. Industri bus ini tidak hanya memindahkan barang melainkan juga memindahkan jiwa manusia. Sebagai contoh menaggapi hal ini adalah menjalankan armada yang lebih saat hari Minggu. Atau tidak memberi armada disewa oleh pihak tertentu saat hari Minggu. Ada dua hal yang dapat kita lihat dari rangkaian ini. Pertama, mental pengusaha/ operator yang “serakah”. Hal ini ditandai dengan menaikkan penumpang melebihi kapasitas dalam keadaan sadar diri. Istilah lainnya adalah aji mumpung, mumpung sewa padat kenapa tidak (?). Ini juga sikap mental yang salah. Kita tidak pernah tahu berapa banyak yang membatalkan kunjungan ke tempat wisata Karo hanya karena susahnya armada menuju lokasi. Tidak hanya pihak otobus yang dirugikan melainkan juga sendi sendi industri wisata dan akhirnya Pemkab Karo.

Ke dua, lemahnya pengawasan. Seharusnya pengawasan ini juga dilakukan secara ketat di Berastagi, Tongkeh dan Bandarbaru. Bandarbaru dan Berastagi telah memiliki pos polisi namun tidak begitu ketat pengawasannya. Kita tahu, aturan yang jelas dan tegas dapat mengontrol mental yang “sakit” ini.

Ke tiga, tempat ini selayaknya memiliki pos polisi atau Satlantas yang digunakan secara instensif mengawasi hal tersebut untuk perbaikan pelayanan. Selain itu, juga dapat dilakukan oleh Dishub atau gabungan personel Pemda. Sesuai amanat Undang Undang No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan bahwa tujuan transportasi adalah menciptakan pelayanan lalu lintas yang aman, selamat, tertib dan lancar. //