Bapa Laura, — Sorasirulo
← Beranda

Bapa Laura,

Oleh: Antonius Bangun (Jakarta) Di tengah keramaian tamu resepsi pernikahan Grace, anak Bapak Helman Pandia, ketika berkeliling mencari makanan sembari berte…

Oleh: Antonius Bangun (Jakarta)

Di tengah keramaian tamu resepsi pernikahan Grace, anak Bapak Helman Pandia, ketika berkeliling mencari makanan sembari bertemu teman, bersalaman dan bertegur sapa, aku berpapasan dengan seorang gadis (aku kira) atau paling tidak, seorang ibu muda cantik. Sebersit, rasanya wajahnya tidak asing. Tapi tidak pantaslah bagiku memandangnya berlama-lama untuk memastikan dia memang kerabat atau teman, atau teman anakku. Kalau bukan, apa kata dunia? Hari gini (bulang ), k ok masih melirik seorang gadis.

Semasa muda dan remaja pun aku tidak genit-genit amat, bahkan bisa dibilang pemalu atau bahkan penakut terhadap cewe. Meski pun aku mendapat "Beautiful Nande Tigan". Itu hanyalah anugerah dan karunia Tuhan. Aku berpaling ke arah lain sembari melangkah mau menjauh, eh... malah dia mengulurkan tangannya. Kami berjabatan sembari saling memandang lebih lama. Aku ingin memastikan siapa dia. Rupanya dia tahu aku masih belum mengenalnya. Lalu dia menyebutkan namanya: "Debby". Dari dahulu, semasa SMA, aku memang susah mengingat, terutama nama. Makanya aku tidak suka Ilmu Sosial, aku lebih suka Matematika. Kalau wajah, aku masih lebih mudah mengingatnya, tapi nama, wah, sukar sekali. Sangat sering aku kenal wajahnya tapi tidak tahu namanya. Aku pun harus menerima kenyataan banyak orang yang mengira aku sombong karena tidak tahu nama mereka. Itulah nasibku. Ya nasib, ya nasib...

Mengerti, aku belum mengenal dia. Debby pun, kurasa menjadi ragu, apakah dia tidak salah menyapa orang. Lalu keluarlah kalimatnya: "Bapa Laura, kan?" Ini jelas untuk memastikan, dia tidak salah.