Bapa Laura, — Sorasirulo
← Beranda

Bapa Laura,

Oleh: Antonius Bangun (Jakarta) Di tengah keramaian tamu resepsi pernikahan Grace, anak Bapak Helman Pandia, ketika berkeliling mencari makanan sembari berte…

Mengerti, aku belum mengenal dia. Debby pun, kurasa menjadi ragu, apakah dia tidak salah menyapa orang. Lalu keluarlah kalimatnya: “Bapa Laura, kan?” Ini jelas untuk memastikan, dia tidak salah.

Aku mengangguk, mengiyakan. Lalu dia lanjut mengatakan: “Saya sering baca tulisannya di facebook.”

Hanya itu, setelah itu kami pun berlalu. Tapi inilah yang membuatku penasaran dan menulis tulisan ini. Terus terang, aku bukan penulis dan tidak rajin menulis di facebook. Bahkan bisa dibilang pengguna pasif. Memang aku pernah menulis dua atau tiga tulisan pada bulan Oktober 2015 ketika mengunjungi pameran buku di Frankfurt (Frankfurt Buchmesse). //

Ketika itu aku galau, lalu bertanya, apakah sudah “selesai/ tamat” riwayat penerbitan buku. Jadi pasti tulisan itulah yang dibaca Debby. Ternyata ada juga yang baca tulisanku. Terimakasih ya, Debby.

Kemudian, siapakah Debby? Sampai saat ini pun aku belum tahu. Yang pasti dia orang Karo. Karena hanya orang Karo yang bertanya dengan mengatakan “Bapa …, kan?” Bukan Bapak tapi Bapa. Ini khas Karo. Kalau orang Tapanuli pasti menyebut “amang ”. Kalau orang Indonesia pada umumnya pasti mengatakan “Oom atau Bapak diikuti nama sendiri, bukan nama anak. Dan dia pasti bukan “turangku ” karena kalau “turangku ” dia akan sungkan menyapa. Ini satu lagi kearifan lokal orang Karo.

Jadi, siapa dia? Ada lagu “Payung Fantasi” yang terus bertanya: “Hei, hei, siapa dia di balik payung fantasi.” Tapi sekali ini, siapa dia di balik Facebook?

Jakarta, 1 Agustus 2016 // //