← Beranda Budaya & Adat · Sel, 6 Sep · 2 mnt baca
Kolom Aletheia Veritas: Dekonstruksi 'buk Saya baru saja mendengarkan lagu Karo berjudul 'Is Melana'. Spontan saya tertawa dan bertanya-tanya tahun berapakah lagu ini diciptakan. Sungguh menarik. Seb…
Sekali lagi saya tertawa. Ah, pencipta lagu ini sepertinya bernalar 'fungsional struktural', pikir saya!
Demi menjustifikasi pilihan saya yang memiliki 'buk gendek ' (rambut pendek, red.) , agaknya sang pencipta lagu perlu piknik ke era 'post-modern'.
Dengan 'buk gendek' yang selalu saya warnai dengan merah, saya tetaplah perempuan Karo. Lebih jelasnya, saya bangga dengan identitas gender saya sebagai perempuan dan identitas etnis sebagai 'kalak' Karo.
Dengan 'buk gendek ', saya melanjut studi ke Pulau Jawa dengan prestasi yang bagus, buktinya saya dipercaya menjadi seorang pengajar di sana. Dengan 'buk gendek ', saya adalah perempuan Karo yang mampu meraih gelar master di bidang Ilmu Politik bahkan thesis saya pun berbicara tentang Karo. Dengan 'buk gendek ', saya spontan menggunakan bahasa Karo bila berjumpa dengan 'kalak' Karo di perantauan meskipun bahasa Inggris saya bagus (perlulah sesekali membanggakan diri).
Bahkan dengan 'buk gendek ', saya bisa menari 'Odak-odak' dengan bagus, buktinya kakak dan adik saya selalu minta diajarin. Oh ya, satu lagi dengan 'buk gendek ' saya bisa melanjut studi doktoral bahkan disertasi saya pun berbicara tentang Karo. Saya konsisten.
Jadi, berhentilah melakukan diskriminasi gender terhadap rambut. Berhentilah merelasikan 'buk gendek' dengan peniadaan identitas gender perempuan dan khususnya identitas etnis Karo.
**** Lepas dari penjelasan panjang lebar di atas, saya tetap suka dengan lagu 'Is Melana'... hahahahaaa. Lanjut....
Artikel ini disajikan sebagai informasi umum. Sorasirulo tidak bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil berdasarkan konten ini. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi.