Kolom Asaaro Lahagu: Lawan Tiongkok Di Natuna, Jokowi Luncurkan
Tiongkok jelas ingin menguasai kekayaan gas di Natuna yang berpotensi menghasilkan duit Rp. 6.000 triliun. Bagi Tiongkok yang juga telah mengklaim kepulauan …
Tiongkok yang memiliki kemampuan dan pengalaman dalam berbagai medan pertempuran berdasarkan catatan sejarah panjang militer Tiongkok, mulai dari perang melawan imperialis Jepang pada saat Perang Dunia II (1937 – 1945), perang saudara Korea Utara dan Korea Selatan (1950 – 1953), perang Vietnam (1957 – 1975), invasi militer ke Tibet (1950 – 1951), dan perang singkat antara China dan India (1962) telah memberikan pengaruh kepercayaan diri bagi militer Tiongkok. Dalam kalkulasi para pejabat tinggi militer Tiongkok, jika terjadi konfrontasi dengan militer Indonesia dalam upaya merebut wilayah Kepulauan Natuna, maka kekuatan militer Tiongkok akan dengan mudah menekuk kekuatan militer Indonesia. Kekuatan pertahanan Indonesia pada 2014- 2019 diketahui hanya mampu menanggulangi seperlima dari kekuatan Tiongkok pada tahun yang sama. Ini berarti mereka cukup menggelar 20% kekuatannya di sekitar kawasan Indonesia, dan itu sudah setara dengan kekuatan militer Indonesia.
Tiongkok jelas hanya mencoba menggertak dan hanya mulai mengklaim, sebagai awal dari strategi untuk menguasinya ke depan. Faktor ini juga yang membuat Jokowi berani ‘gila’ untuk melawan Tiongkok di Natuna. Namun ke depan Tiongkok sangat berpotensi mengambil alih Natuna jika ada kesempatan atau jika terjadi kekacauan politik di Indonesia. Tiongkok hanya menunggu saat tepat untuk mengkadali Indonesia. Bagi Indonesia, sebelum Tiongkok benar-benar mencapai kejayaan ekonomi dan militer, Indonesia harus dengan cepat membangun pangkalan militer di Natuna. Pertimbangan itulah yang membuat Jokowi memproyeksikan wilayah perairan dan kepulauan Natuna sebagai salah satu pangkalan militer terbesar Indonesia untuk mengantisipasi dampak negatif dari konflik Laut Tiongkok selatan yang semakin meluas.