Kolom Bastanta P. Sembiring: Erbante — Sorasirulo
← Beranda

Kolom Bastanta P. Sembiring: Erbante

Semasih kecil di Patumbak (Deliserdang), ada satu tradisi yang sangat melekat dalam kehidupan kami warga Suku Karo yang dikenal dengan istilah erbantai . Mun…

Kolom Bastanta P. Sembiring: Erbante

Semasih kecil di Patumbak (Deliserdang), ada satu tradisi yang sangat melekat dalam kehidupan kami warga Suku Karo yang dikenal dengan istilah erbantai . Mungkin tradisi demikian juga terjadi di wilayah-wilayah Karo lainnya. Erbantai adalah tradisi memotong babi (membantai babi) pada hari-hari besar, misalkan Hari Kemerdekaan RI, ulang tahun persadaan (perkumpulan), menjelang tahun baru, dsb. Mungkin di daerah Karo lainya bisa diganti dengan kambing atau kerbau.

Bapak saya orang yang gemar sekali erbantai . Sampai-sampai dulu hampir tiap akhir bulan dia ikut erbantai babi , dari kelompok satu ke kelompok lainnya. Dia selalu berani erpasang kata orang Karo. Maksudnya, dia mendahulukan semua biaya agar kegiatan ini selalu terlaksana. Setidaknya 3 – 5 panggung/ terpok (istilah untuk bagian daging dan tulang) menjadi milik kami.

Kebetulan di tempat tinggal kami banyak beternak babi dan keluarga saya pun dulu juga beternak babi di belakang rumah. Tidak begitu susah mendapatkan babi, tentunya dengan harga lebih murah dari pasaran. Acara makan siang bersama para pemuda Karo yang tergabung dalam PMS (Pemuda Merga Silima) dijamu oleh pengusaha RM BPK Tesalonika hari ini . Pemuda Karo (bukan Batak) ini siap mengawal RM BPK Tesalonika dri gangguna siapapun karena RM BPK adalah lambang kebanggan Suku Karo.[/caption] Perlu pembaca ketahui, banyak anak kampung saya yang jadi sarjana dari hasil beternak babi. Salah satu sahabat saya yang sekarang sudah menjadi dokter, juga dulu sepulang sekolah kerjanya memasak nasi babi. Demikian juga dengan saya yang tiap pagi memandikan babi dan anak-anak lainnya di kampung. Jadi, manfaat ternak babi sangat kami rasakan untuk membantu biaya pendidikan kami. Biasanya, saat erbante babi juga ada ngerires (membuat lemang). Bisa dari pagi hingga tengah malam kami kumpul di satu tempat (biasanya lapangan terbuka). Saat erbante semua senang dan bergotongroyong. Kaum laki-laki mengerjakan daging, mulai dari menangkap babi ke kandang, membakar, memotong, hingga memasaknya. Sedangkan kaum perempuan menyiapkan bumbu-bumbunya.