← Beranda Berita terkini · Kolom · Politik · Sen, 10 Okt · 3 mnt baca
Kolom M.u. Ginting: Jakarta macet, tetapi seluruh dunia juga punya problem macet. Terutama negeri berkembang yang jadi pemasaran kendaraan negeri maju fabrik mobil. Masanya begi…
Karena itu, pemikiran ke kenderaan kolektif atau mengurangi kenderaan/ mobil adalah mungkin. Kuncinya pemikiran masyarakat, atau tingkat kesedaran tadi. Apakah bisa melaksanakan ide kenderaan kolektif atau mengurangi kenderaan di kota selama tingkat pemikiran tidak berubah atau belum berubah?
Persoalan pokok untuk mengurangi atau mengubah kemacetan ialah adanya perubahan KESEDARAN masyarakat yang ada di kota itu. Kuncinya, MENGUBAH KESEDARAN yang membikin kenderaan/ mobil tambah, dan ketidakinginan naik kenderaan kolektif bagi sebagian masyarakat yang sudah mampu beli mobil. Jumlah orang ini semakin banyak di negeri berkembang, dan golongan orang-orang ini jugalah yang sangat mendorong produksi mobil secara besar-besaran di negeri maju atau negeri produksi mobil dunia.
Ini jugalah yang menjadi sebab utama mengapa di negeri berkembang seperti Indonesia persoalan macet hanya tambah 'seru' tiap tahun dan sebaliknya tiap tahun negeri produksi mobil atau motor tambah keuntungan semakin besar.
Negeri maju yang memproduksi kenderaan ini lebih sukses mengatasi kemacetan karena juga punya duit untuk bikin kereta bawah tanah atau kreta/ kendaraan kolektif yang lebih nyaman dimana negeri berkembang tak bisa bikin, karena tak punya duit. Di samping itu, kesedaran lingkungan yang sudah sangat lebih tinggi di kalangan rakyat banyak di negeri maju. Banyak yang memilih naik sepeda atau kenderaan kolektif karena adanya pikiran MENGURANGI POLUSI. Hal mana belum bisa terpikirkan di negeri berkembang seperti kota Jakarta.
Solusi yang ditawarkan Baswedan jelas bagus, tetapi tanpa menyinggung soal KESEDARAN tadi, amatlah susah untuk mengurangi kemacetan yang sudah jadi problem negeri berkembang seluruh dunia tanpa penyelesaian.
Hanya saja, bahwa persoalan ini diangkat ke permukaan menjadi tema Pilgub DKI Jakarta, menjadi sebuah thema perlombaan bagi Cagub-cagub untuk mengkedepankan ide-idenya dalam proses Pilgub ini. Siapa yang punya ide paling bagus dan bisa dilaksanakan, patutnya dialah yang menjadi pemimpin Jakarta. Jadi, prinsip Pilgub ialah memilih yang terbaik bagi pembangunan Jakarta.
Kemacetan adalah salah satu persoalan abadi yang belum bisa teratasi selama ini. Masalah ini akan terus tidak bisa diatasi biar siapapun jadi gubernurnya, sepanjang TIDAK MENYINGGUNG PENINGKATAN/ PERUBAHAN KESEDARAN MASYARAKAT itu, soal yang telah menjadi tembok dan benteng utama berlanjutnya KEMACETAN.
Artikel ini disajikan sebagai informasi umum. Sorasirulo tidak bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil berdasarkan konten ini. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi.