Kolom M.u. Ginting: Kesucian
Menarik membaca pendapat dan analisa Panglima TNI di merdeka com, yang menyebutkan Australia jadi penyumbang terbesar untuk dana terorisme di Indonesia. Nega…
Menarik membaca pendapat dan analisa Panglima TNI di merdeka com, yang menyebutkan Australia jadi penyumbang terbesar untuk dana terorisme di Indonesia. Negara atau siapa pun juga memang bisa jadi donator teroris di Indonesia. Persoalan besarnya selalu ialah ‘sumber duit’ nya itu, dari mana dan dimana bisa ditemukan duit berlimpah untuk membiayai teroris yang relatif biayanya sangat sedikit dibandingkan dengan duit atau sumber duit yang besar itu lebih dulu harus bisa dikuasai.
Atau juga. berapalah biaya demo 411 sekiranya tadi Indonesia berhasil dipecah belah dengan korban banyak dan kekuasaan pindah ke tangan Divide and Conquer seperti di Irak dan Siria, dan dengan begitu nanti lebih bebas lagi menguasai semua SDA Indonesia sumber energi itu? Otomatis tidak ada lagi yang berani buka mulut soal pemberhentian kontrak, apalagi soal nasionalisasi Freeport Papua.
Paus Fransiskus belakangan dalam mengeritik habis-habisan terorisme dan bisnis senjata internasional. Paus bilang: “Behind all this pain, death and destruction there is the stench of what Basil of Caesarea called ‘the dung of the devil’. An unfettered pursuit of money rules. The service of the common good is left behind. Once capital becomes an idol and guides people’s decisions, once greed for money presides over the entire socio-economic system, it ruins society, it condemns and enslaves men and women, it destroys human fraternity, it sets people against one another and, as we clearly see, it even puts at risk our common home.” http://fortune.com/
Mengutamakan dan mengidolkan kapital, mengejar duit dan kekuasaan duit, itulah salah satu sebab yang sesungguhnya merusak dan bikin busuk masyarakat. Masyarakat yang sudah behasil dirusak, dibusukkan moralnya tanpa disedari, sangat gampang dipecah belah dan diadu domba bunuh-bunuhan sesamanya tanpa sedar sama sekali bahwa di belakang semua kegiatan itu ada grup atau komplotan yang dengan sengaja mengatur supaya diam-diam bisa menguasai sumber duitnya, menjarah energi/ SDA. Itulah yang sekarang terjadi di Irak/Siria dan Indonesia 1965.
Demo 411 tidak berhasil memecah belah dan mengadu rakyat Indonesia sampai sengketa berdarah seperti di Timur Tengah. Mengapa bangsa ini bisa berhasil menghindari perpecahan dan perang sesamanya seperti 1965 walaupun Demo 411 juga adalah demi mempertahankan ‘kesucian agama’ dari ‘penistaan orang kafir’?
Bisa banyak jawaban dari pertanyaan ini. Tetapi satu soal yang pasti ialah, kita bukan lagi di Era 1965. Sudah banyak sekali perubahan dan peningkatan pemikiran dan kesedaran (berbangsa) sebagai hasil dari semua pencerahan dari banyak pemikir/ akademisi yang selama setengah abad ini telah terbaca dan dimengerti oleh sebagian besar rakyat negeri ini. Lihatlah soal terorisme misalnya dan soal pembiayaannya seperti yang dijelaskan oleh Panglima TNI itu. Biarpun begitu kita tetap harus mempertinggi kewaspadaan dari godaan pecah belah dan teror itu.
Pencerahan sebanyak mungkin harus selalu disebarkan seluas mungkin terutama dari akademisi/ ahli bidang sosial kemasyarakatan. Atau seperti seorang kompasianer (Kompasiana/ Dalbokondo) bilang: “Tentunya, masyarakat yang berpendidikan inilah yang harus memberikan pengertian kepada masyarakat yang kurang berpendidikan.”
Dalam soal ini termasuk juga pencerahan dan penjelasan yang pasti berimbas sangat positif dari Panglima TNI soal terorisme dan biayanya itu di Indonesia.