Landek Pagar: Memanggil Musim Hujan Di — Sorasirulo
← Beranda

Landek Pagar: Memanggil Musim Hujan Di

Oleh: Darul Kamal Lingga Gayo (Tigabinanga) Landek pagar boleh dibilang menari bersama antara sembuyak, senina, kalimbubu, dan anak beru . Ritual ini dilakuk…

Oleh: Darul Kamal Lingga Gayo (Tigabinanga)

Landek pagar boleh dibilang menari bersama antara sembuyak, senina, kalimbubu, dan anak beru . Ritual ini dilakukan di Tigabinanga dalam rangka memulai sebuah hajatan atau meminta musim hujan segera tiba, syukuran atas hasil panen atau sebelum berangkat berperang. Sang dukun (guru ) biasanya membacakan mantra dan berkomunikasi dengan yang dikeramatkan atau disebut Nini Pagar.

Sebelum ke Nini Pagar, prosesi dimulai dari Nini Galoh (keramat tumbuhan obat) yang terletak di Desa Kuala. Gendang selok (musik kesurupan) ditabuh. Hadirin semuanya turut menari bersama. Beberapa diantaranya kemudian kerasukan. Matanya berbinar merah, menari, melompat, dan berlari. Terlihat garang. Sesajen yang diletakkan di atas altar.[/caption] Lalu, sang dukun bertanya apa maunya dan apa upahnya untuk keluar dari tubuh si penari. Gendang terus ditabuh bertalu-talu. Dari tempat keramat Nini Galuh beranjak ke tempat keramat Nini Pagar sambil menari. Di tempat Nini Pagar, ritual kembali dilaksanakan. Guru mbelin (Dukun Besar) akan kemasukan Nini Pagar dan memberi wejangan kepada hadirin. Pemasangan bendera putih (panji ) dalam bahasa Karo), dan altar persembahan dimulai oleh anak beru sebayang. Diletakkanlah rokok, kelobot jagung, sirih, pisang emas, kelapa muda, cimpa , gula merah, dsb. di atas altar. Setelah itu ersudip (berharap/ memohon) di depan altar menghadap ke Deleng Sibuaten dengan mengangkat tangan mengepit daun sirih berisi kapas diolesi baja (minyak kayu).

Ersudip dimulai dari sembuyak , senina , kalimbubu dan anak beru . //