Nageri Suah, Membenahi Desa Dari Wisata Dua — Sorasirulo
← Beranda

Nageri Suah, Membenahi Desa Dari Wisata Dua

Laporan Karo Trekker Community (KTC) untuk Sora Sirulo Ditulis Oleh SALMEN SEMBIRING // Sungai Dua Rasa demikian wisatawan menyebut destinasi wisata yang beg…

Nageri Suah, Membenahi Desa Dari Wisata Dua

Dalam perjalanan, kami juga beriringan dengan pengunjung lainnya yang juga mengendarai sepeda motor.

Kondisi jalan yang sempit mulai dari Bandar Baru mengharuskan setiap pengendara berhati-hati. Belum lagi terdapat titik-titik yang rusak berat dan longsoran. Kondisi jalan dari Bandar Baru sampai Sikeben terbuat dari cone block sehingga cukup nyaman. Sedangkan dari Sikeben ke Lau Seruai memang jalan aspal. Hanya saja, terdapat titik-titik kerusakan terutama di daerah turunan menuju Sungai Lau Seruai. Lewat dari Lau Seruai, jalanan yang terbuat dari cor beton kondisinya rusak dan berakhir sampai di Simpang Penen. Setelah dari Simpang Penen, maka jalanan masih berupa pengerasan batu dan sedang dikerjakan pengecoran jalan. Bukan ke Nageri ini saja jalanan seperti ini kondisinya, hampir semua desa yang pernah dikunjungi KTC di Karo Dusun ini seperti anak tiri perlakuan pemerintah daerahnya terutama bidang infrastruktur jalan. Dari sejarah kita dapat melihat bahwa posisi anak tiri ini telah berlangsung sejak wilayah Kewedanaan Karo Jahe dari Kabupaten Karo ini dialihkan menjadi bagian wilayah Kabupaten Deliserdang pada tahun 1950an. Tidak seperti destinasi wisata lainnya di Deli Serdang yang didominasi pemandangan sawit, pemandangan alam menuju Sungai Dua Rasa masih heterogen. Mulai dari persawahan, susunan bebatuan raksasa dan pegunungan. Bahkan sungai tersebut dikelilingi oleh persawahan. Pemandangan desa yang dihuni tidak lebih dari belasan rumah itu juga masih alami juga. Semua terbuat dari papan dan memiliki palas atau teruh karang.

Jarak sungai dari desa sekitar 500 meter. Hanya dapat ditempuh dengan jalan kaki. Tapi tidak perlu khawatir karena konturnya tidak begitu curam. Berjalan 200 meter saja maka kita akan dihadapkan dengan dengan pancuran air panas. Aroma belerang mulai menyeruak.

Dalam melanjutkan perjalanan ke sungai utama terdapat beberapa alur yang beraroma belerang. Pandan-pandan raksasa dan bamboo tumbuhan utama di sisi kiri tebing jalan yang dilalui. Dan akhirnya kami tiba di sungai tempat pemandian utama bersama hujan deras. //

Beberapa pengunjung tetap nekat mandi di air hangat tersebut meskipun hujan mengguyur. 5 menit kemudian, sungai menjadi berubah warna. Air di sisi kanan tetap berwarna hijau (jernih) sedang air beraroma belerang menjadi berwarna hitam yang, kalau pada kondisi cuaca cerah, airnya berwarna biru keputihan.

Ekonomi warga mulai bangkit dengan hadirnya industry wisata ini. Tidak ada pungutan khusus masuk ke Sungai Dua Rasa. Hanya saja, bagi yang ingin berkemah, pemilik lahan keturunan Ginting Manik dari Nageri Gugung mengutip retribusi Rp. 2.000/ orang.

Kemberahen ((istri) Manik membuka warung minuman dan makanan ringan. Di seberang sungai juga terdapat 1 warung lagi yang dibuka warga. Sedang di desa terdapat 2 warung.

Ada juga warga yang bekerja sebagai penjaga dan pengutip retribusi biaya parkir kenderaan. Kenderaan roda 4 diparkirkan di Simpang Penen karena kondisi jalan kurang memungkinkan untuk dilalui.

Kunjungan umumnya meningkat tajam saat Akhir Pekan dan hari libur. Misalnya saat kunjungan KTC minggu lalu, ratusan kenderaan diparkirkan di balai desa (losd ). Juga puluhan tenda pengunjung memenuhi lokasi camping ground di pinggir Sungai Dua Rasa. //