Kolom M.u. Ginting: Baliho Yang Mengencingi — Sorasirulo
← Beranda

Kolom M.u. Ginting: Baliho Yang Mengencingi

Sungguh diharapkan memang supaya yang bertanggungjawab bisa menjelaskan persoalan ' baliho dengan gambar perempuan berbusana Batak di Kabanjahe, yang dibuat …

Kolom M.u. Ginting: Baliho Yang Mengencingi

Saling menghormati dan menghargai sesama kultur berbeda, di Karo adalah kultur dan budaya Karo. Semua pendatang bisa ikut melestarikan kearifan lokal, bukan menghina budaya lokal menggantikan pakaian tradisi lokal dengan pakaian pendatang. Kalau istri bupati kebetulan orang Batak, adalah soal pribadi bupati. Tidaklah berarti kalau bupati harus mengutamakan pakaian adat Batak di Karo. Saya sangat bangga atas sikap tegas dan kritis LSM Karo, pemuda Karo dan juga Roy Fachraby Ginting yang menegaskan soal jati diri Karo itu. Bravo! Jati diri Karo adalah salah satu dari jati diri berbagai suku/ kultur. Inilah yang menjadi dasar jati diri nasional itu, jati diri NKRI. Tidak ada salahnya pakaian adat manapun, tiap pakaian adat yang menggambarkan kultur dan budaya suku asli Indonesia, sangat indah karena menggambarkan keaslian kultur dan budaya negeri bhinneka ini.

Secara pribadi saya selalu tersentuh semangatnya tiap kali melihat dan mendengar musik tradisional asli suku-suku bangsa Indonesia. Begitu juga dengan pakaian adatnya. Jelas menggambarkan keaslian dan existensi kultur serta kreasi manusia asli nation Indonesia dalam hidupnya, jauh sebelum peradaban Barat muncul. Bukan main-main keaslian tradisi suku-suku bangsa Indonesia itu.

Saya selalu merasa pakaian adat dan keindahan lagu-lagu asli tradisional suku-suku bangsa negeri ini sangat inspiratif. Karena itu, sikap melecehkan adat/ kultur lain dengan cara menggantikannya dengan pakaian adat pendatang di satu daerah, secara resmi pula, sangat menyakitkan. Bukan hanya bagi suku lokal itu, tetapi menyakitkan bagi perasaan nasionalisme itu sendiri. Nasionalisme Indonesia adalah kesatuan dari semua kultur dan penghormatan bagi semua kultur. Syarat utama menghormati ialah 'di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung'.

Tanpa semua ini tidak ada yang namanya nasionalisme Indonesia itu, dan tidak ada NKRI.