Kolom Asaaro Lahagu: Sinyal Kedok Pks Merapat, Jokowi — Sorasirulo
← Beranda

Kolom Asaaro Lahagu: Sinyal Kedok Pks Merapat, Jokowi

Partai berkaki dua era SBY, PKS, mulai bermanufer. Setelah terpuruk dari berbagai survei dan bakal menjadi partai dinosaurus macam PBB, kini mulai memutar ha…

Kolom Asaaro Lahagu: Sinyal Kedok Pks Merapat, Jokowi

Ketika Jokowi saat peresmian Bandara 2 Januari 2018 lalu hanya memakai kaus merah, Sohibul Iman tidak berani mengkritiknya. Sohibul terkesan berkelit ketika ditanya wartawan dengan mengatakan bahwa kaus Jokowi itu kelihatan anak Zaman Now. Padahal, dulunya, hal-hal remeh sekalipun terkait Jokowi, PKS akan rajin mengkritiknya.

Sinyal lain merapatnya PKS kepada Jokowi, bisa dilihat dari isi video pidato Presiden PKS, Sohibul Iman 15 Februari 2018.

“Jika kita memilih desain koalisi 2 partai, maka PKS memiliki 3 skenario koalisi. Skenario pertama adalah koalisi PKS-PDIP. Bagaimana? Ya, saya sudah tahu pasti responsnya begitu,” kata Sohibul Iman.

Jelas ketika elektabilitas turun, PKS akhirnya sadar diri. Bargain awal PKS adalah mengajukan 9 nama Cawapres. Namun, tembakan utama PKS jika Wapres tak kesampaian adalah mengincar posisi menteri dalam kabinet Jokowi. Selain itu, tujuan lain dari merapatnya PKS adalah mengerek kembali elektabilitas partai yang hanya 2,4% pada Pemilu 2019 menurut survei Pollmark ala Eep Syaefullah. Salah satu cara menaikkan elektabilitas PKS yang terpuruk ini adalah merapat kepada Jokowi.

Pilihan PKS untuk berbalik kepada Jokowi bukan tanpa dasar. Masyarakat yang ada pada basis-basis PKS di berbagai tempat, sudah move on dari Pilpres 2014 dan berhasil direbut hati mereka oleh Jokowi. Banyak masyarakat yang mulai percaya kepada kepemimpinan Jokowi. Sambutan dan euforia tinggi masyarakat saat Jokowi blusukan adalah contoh konkrit penerimaan masyarakat atas kepemimpinan Jokowi tak terkecuali di tempat-tempat yang dulu tidak memilihnya.

Saat Jokowi mengunjungi Sumbar beberapa waktu lalu, misalnya, masyarakat mengerubungi Jokowi dengan teriakan euforia tinggi. Masyarakat Sumbar baru mulai sadar ketika sudah merasakan dampak signifikan kepemimpinan Jokowi. Jika pada basis PKS baik di Jawa maupun di luar Jawa sudah bersimpati kepada Jokowi, lalu bagaimana dengan para pemimpinnya? Apakah tetap bersikukuh untuk beroposisi melawan Jokowi? Jika melawan maka hasilnya akan semakin terpuruk. Inilah yang merubah 180 derajat strategi para pemimpin PKS.

Jika PKS merapat ke Jokowi, maka harapannya adalah suara PKS pada Pemilu serentak 2019 mendatang terselamatkan. Dengan mengikuti cara-cara Golkar, Perindo dan partai lain, maka PKS juga ingin kecipratan magnet besar Jokowi pada tahun 2019 mendatang. Atau, jika kecipratannya hanya remeh-remeh, minimal PKS tidak langsung berhadap-hadapan dengan kubu pendukung Jokowi. Tujuan panjangnya adalah Pilpres 2024 yang mungkin lebih panas dari Pilpres 2019 ini. Pada tahun 2024, Jokowi sudah tidak bisa lagi mencalonkan diri menjadi Presiden. Nah, di situlah PKS kembali bertarung.

Peta politik 2019 sebetulnya sudah bisa dibaca melalui peta pertarungan di Pilkada 2018 ini. Jika pada Pilkada 2018, PDIP sebagai basis utama pendukung Jokowi memenangkan lebih banyak jagoannya terutama di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat, maka bisa dipastikan posisi Jokowi juga akan menguat. Gejolak politik pun akan stabil dan adem ayem. Jika hal itu tercapai, maka Pilpres 2019 akan dengan mudah dimenangkan oleh Jokowi. Bila situasi terjadi, mau tidak mau PKS merapat ke Jokowi.

Pertanyaanya adalah, apakah Jokowi mau menerima PKS yang selama ini getol membullynya?

Dari karakternya, bisa dilihat bahwa Jokowi tidak akan menolak jika PKS benar-benar merapat. Dia mempersilahkan PKS bergabung. Namun, dengan catatan, dia tidak akan tunduk kepada maunya PKS. Karakter ‘kepala batu’ Jokowi sudah dirasakan benar oleh Setya Novanto. Jika ke depan PKS pun akan berkaki dua, itu tidak masalah. Dukungan PKS ke depan sama sekali tidak signifikan. Namun, demi etika politik, jika partai ingin merapat, maka tangan Jokowi selalu terbuka. Itulah karakter manusia jujur, ikhlas dan lurus.

Bagi PKS sendiri, jika memang mau mendukung Jokowi, tidak perlu malu-malu. Dalam dunia politik hal itu wajar-wajar saja. Namun yang perlu diperhatikan oleh PKS sekarang adalah harus fokus dan bekerja lebih keras lagi, mencuci namanya yang kotor karena dekat dengan HTI dan fokus melakukan persiapan demi menghadapi Pemilu legislatif. Pasalnya, syarat untuk lolos ke Senayan pada Pemilu 2019 cukup berat. Ambang batas parlemen 3,5 persen bukan angka yang sedikit karena jumlah pemilih sangat besar.

Jadi, ketika PKS terancam menjadi dinosaurus, maka sinyal kedok PKS merapat ke Jokowi terkuak. Di sisi lain, Jokowi diprediksi akan menerima pertobatan PKS tanpa syarat, demi etika politik. Begitulah kura-kura.