Jadi begini. Pilpres akan dilaksanakan bareng dengan pemilihan legislatif. Nanti di kotak suara, pemilih dapat banyak banget kertas suara. Ada wajah-wajah Ca…
Jadi begini. Pilpres akan dilaksanakan bareng dengan pemilihan legislatif. Nanti di kotak suara, pemilih dapat banyak banget kertas suara. Ada wajah-wajah Caleg DPRD II, DPRD I, DPR-RI, anggota DPD, juga Capres dan Cawapres. Apalagi sekarang jumlah partai yang ikut Pemilu bertambah. Bisa dibayangkan membawa 5 kertas suara dengan bermacam-macam pilihan. Itu keribetan dari sisi teknis pencoblosan.
Dari proses penghitungan suara juga lumayan memakan waktu.
Entahlah, nanti teknis suara dari kertas mana dulu yang dihitung. Apa dari pilihan Pilpres atau Pileg. Kalau Pilpres duluan, kita akan mengetahuo ancer-ancer Presiden berikutnya sesaat setelah bilik suara ditutup.
Tentu mana yang akan dihitung terlebih dahulu akan membawa dampak psikologis berbeda. Jika dihitung kertas Pileg, kita akan mengetahui Parpol mana yang dapat suara terbanyak. Jika kertas Pilpres yang dhitung terlebih dahulu kita akan secepatnya tahu siapa Presiden terpilih nantinya. Saya sih, berharap kertas Pilpres yang dihitung terlebih dahulu.
Pemilu bersamaan ini juga membawa konsekuensi lain. Ok, untuk mengusung Capres partai-partai perlu bersatu dalam koalisi. Mereka dituntut untuk bekerjasama memenangkan jagoannya. Sementara pada Pemilu Legislatif, partai-partai itu berkompetisi memperebutkan kursi. Jadi di satu sisi partai bekerjasama di sisi yang lain saling bersaing.
Siapa yang akan menggerakkan persaingan di partai? Para Caleg. Mereka berkompetisi bukan saja dengan Caleg lain partai, juga dengan Caleg separtainya. Sebab sesungguhnya mereka berkompetisi untuk memenangkan dirinya dalam proses persaingan yang ketat itu. Boleh dibilang, sebagian besar energi partai akan tertumpah pada Pileg. Lalu bagaimana dengan Pilpres?