← Beranda Nasional · Kam, 1 Feb · 2 mnt baca
Kolom Ganggas Yusmoro: Lonceng Ketika seorang temen mengabarkan ada beberapa negara seperti halnya Austria dan Belanda nyaris malas menyembah Tuhan, bahkan banyak yang ke tempat ibadah han…
Temen tersebut bilang: "Menyembah Tuhan itu masalah pribadi. Sesuatu yang privat. Nyaris tidak pernah dibicarakan di ruang publik."
Bingung, kan? Tuhan kok disepelekan. Tuhan apa gak marah? Apa gak mengancam? Lha wong di sini saja setiap nyetel TV ~ CEKLEK ~ Selalu ada yang ceramah. Selalu ada yang mengajak kebaikan. Selalu ada yang mengingatkan soal Surga dan Neraka. Itupun tahanan penuh sesak. Untel-untelan. Mulai kasus korupsi hingga pelecehan seksual. Mereka semua mengaku orang beragama.
"Itulah bedanya, Mas. Di tempat saya tinggal, yang dikedepankan adalah nilai kemanusiaan. Nilai dimana kebenaran universal adalah sesuatu yang telah mendarah daging. Saling menghormati. Saling menghargai. Tentu saja orientasinya adalah moralitas."
Woww ... Saya jadi ingat ketika kecil. Ketika nilai-nilai budaya leluhur dari bangsa ini, unggah-ungguh, tepo seliro serta roso rumongso, saling menghormati dan saling merasakan.
Saya juga masih begitu ingat, ada gereja kecil di tengah kampung. Rumah-rumah berdiri di sekitar Gereja juga tidak ada yang merasa terganggu. Apakah lalu masyarakat di sekitar gereja terus berbondong-bondong murtad? Apakah masyarakat di sekitar gereja lalu merasa ketakutan jika anak-anak masuk Kristen? Gak ada yang punya pikiran semacam ini.
Jika makin ke sini ada golongan yang ketakutan teramat sangat dengan kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan oleh umat Nasrani, sejujurnya saya bingung. Lha wong berbuat baik kok dicurigai. Lha wong bakti sosial kok dilarang karena membawa nama gereja. Sumpah saya bingung.
Pastinya, Negara ini secara hukum telah mengakui dengan adanya 5 agama. Ada Islam dengan tempat ibadah yang bernama masjid. Ada Protestan dan Khatolik yang tempat ibadahnya bernama gereja. Ada Hindu/ Budha dengan viharanya. Ada klenteng sebagai tempat ibadah umat Khong Hu chu. Malah yang terakhir sudah disyahkan penghayat kepercayaan.
Jika yang lain boleh melakukan kebaikan, kenapa yang lainnya lagi tidak boleh? Salahnya di mana? Indonesiaku mau ke mana?
Tulisan ini terinspirasi dari cerita Bpk Mahisa Anabrang .
Artikel ini disajikan sebagai informasi umum. Sorasirulo tidak bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil berdasarkan konten ini. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi.