← Beranda Kolom · Sen, 6 Agu · 2 mnt baca
Kolom M.u. Ginting: Menanggapi Tulisan Hayati Silo Kolom Hayati Silo Nur ini bagus tentang toleransi: "Sebabnya, keyakinan yang saya akuipun menganut faham arti toleransi, saling menghargai, saling menasehati…
Siapa sangka adanya kesamaan utama yang pasti akan menentukan masa depan negeri ini.
Ini pula yang terus menerus mau dirusak oleh kekuatan luar divide and conquer internasional neolib/ NWO, seperti pecah belah 1965 menghasut segelintir bikin pembunuhan atas sebagian lain dari bangsanya sendiri. Dan, akhir-akhir ini dengan pecah belah Saracen, 411, 212, teror Thamrin, isu pecah belah '5000 senjata' Polri/ BIN, teror Surabaya hasil brainwashing orang luar, dsb dst . . .
Hasutan dan upaya pecah belah yang belum juga ada tanda akan berhenti. Tetapi, dari segi lain, neolib/ NWO ini terus menerus mempropagandakan semacam toleransi yang sangat berbahaya, yaitu: toleransi homo dan LGBT!
"Neoliberalism uses the promise of sexual tolerance, flexibility, and pluralism in order to fulfill its anti-social, anti-democratic, and violent agenda. Furthermore, it is argued that neoliberal sexual politics require a rethinking of the concept of heteronormativity." Lihat di tulisan "Desiring Neoliberalism" - Gundula Ludwig
Jadi, demi menjaga toleransi serta saling menghargai dan menghormati sesama manusia, bangsa itu harus juga waspada akan toleransi palsu neolib/ NWO terutama dari segi 'sexual tolerance' yang akhir-akhir ini sangat aktif dipropagandakan di Indonesia dan seluruh dunia.
Artikel ini disajikan sebagai informasi umum. Sorasirulo tidak bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil berdasarkan konten ini. Selalu verifikasi informasi dari sumber resmi.