Berita terkini · Ekonomi · Hukum · Kolom · Pengaduan · Pertanian··5 mnt baca
Kolom Edi Sembiring: Agnes Irianta Sembiring Pimpin Petani Karo
.... Saya berdua dengan seorang ibu, maju ke depan buldozer yang akan meratakan tanaman kami. Hanya tinggal selangkah, nyawa kami akan habis dilindas oleh al…
.... Saya berdua dengan seorang ibu, maju ke depan buldozer yang akan meratakan tanaman kami. Hanya tinggal selangkah, nyawa kami akan habis dilindas oleh alat berat itu ....
170 petani yang tergabung dalam Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB) telah berjalan kaki sejak tanggal 25 Juni 2020 dari Medan menuju Jakarta dengan tujuan bertemu Presiden Joko Widodo untuk menuntut keadilan.
Para petani telah bertahun-tahun memperjuangkan tanah yang mereka tempati yang telah digusur paksa oleh korporasi PTPN II.
Sebelumnya, pada tanggal 28 Mei 2020, SPSB telah membuat surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo. Surat tersebut juga ditujukan kepada Kementerian BUMN, Kementerian Agraria (ATR), Gubernur Sumatera Utara, dan stakeholder lainnya.
Dalam surat tersebut, mereka menyampaikan akan menggelar aksi berjalan kaki (long march) dari Medan menuju Istana Negara di Jakarta di tengah situasi darurat virus corona. Hal ini dilakukan jika konflik agraria yang terjadi antara petani di Desa Simalingkar A dengan PTPN II tidak segera terselesaikan.
Surat terbuka yang ditandatangani oleh Ketua Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) (Agnes Irianta beru Sembiring) ini menyebutkan, ada lebih kurang sekitar 810 Kepala Keluarga di Desa Simalingkar A (Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara) yang tempat tinggal dan lahan pertaniannya akan tergusur dan digantikan perumahan mewah dari PTPN II Deli Serdang.
“Bila mana seluruh kebijakan PTPN II ini terus berlangsung dan dipaksakan, bisa dipastikan ribuan jiwa akan kehilangan tempat tinggal permanen dan tempat mata pencaharian permanen. Bukan hanya itu saja, dipastikan banyak korban jiwa dan kriminalisasi oleh aparat keamanan kepada petani, serta rentan terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam skala besar," tulis surat tersebut.
Namun, kembali tak ada tanggapan dari Bupati Deli Serdang dan Gubernur Sumatera Utara maupun stakeholder lainnya. Hingga akhirnya Agnes beru Sembiring bersama para petani SPSB dan juga STMB membulatkan tekad berjalan kaki mulai tanggal 25 Juni 2020 dari Medan menuju Jakarta menemui Presiden Joko Widodo untuk mengadukan nasib mereka.